Itulah yang menjadi alasan kenapa SBY dan Demokrat memunculkan nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Belakangan AHY yang juga Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute sering
roadshow ke berbagai daerah, dan melakukan gerilya politik menyambangi para tokoh.
"Pak SBY sangat paham betul partai butuh figur," ujar pemerhati politik sekaligus Direktur Mahara Leadership, Iwel Sastra saat dihubungi redaksi, Jumat (3/11).
Gayung bersambut, AHY pensiunan TNI dengan pangkat terakhir Mayor adalah sosok muda, ganteng, mempesona
plus pintar.
"Target jangka pendek Pilpres 2019. Dia masih muda, dan bisa juga disiapkan untuk Pilpres 2024," sebut Iwel.
Di Pilpres 2019, kalau ambang batas pencapresen (
presidential threshold/PT) 0 persen, menunggu keputusan Mahkamah Kostitusi, maka AHY berpeluang jadi calon presiden.
Tapi, kalau PT tetap diberlakukan 20 persen seperti dalam UU Pemilu, maka AHY hanya berpeluang jadi calon wakil presiden.
"Wapres ini (2019-2024) hanya modal menuju presiden 2024," ujarnya.
Ditambahkan Iwel, pola AHY sudah terbaca persis seperti yang dilakukan sang ayah dulu. Pola yang dimaksud, dengan menggunakan politik non blok dan dinamis.
"Misalkan, sesudah AHY bertemu Anies-Sandi, dia menjenguk Ahok di Lapas Brimob. Dia ingin terlihat berdiri di semua golongan," pungkasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: