Hary Tanoe Ternyata Cuma Sampai Di Situ

Hapus Mimpi Nyapres, Pilih Dukung Jokowi

Kamis, 03 Agustus 2017, 11:10 WIB
Hary Tanoe Ternyata Cuma Sampai Di Situ
Hary Tanoesodibjo/Net
rmol news logo Melihat manuver Partai Perindo yang didirikannya selama ini, banyak yang menebak Hary Tanoesodibjo akan nyapres. Ternyata tebakan itu meleset. Karena bos MNC Group itu memilih akan mendukung Jokowi sebagai capres. Ternyata, Tanoe cuma sampai di situ.

Rencana Perindo ikut mencapreskan Jokowi di 2019 disampaikan Tanoe di Hotel Westin, Jakarta, Selasa (1/8), saat ditanya soal Pilpres 2019. Dia bilang, tentu saja partainya terus mengikuti perkembangan politik saat ini. Dan hasilnya, Perindo membuka peluang untuk mengusung Jokowi sebagai capres di 2019. Deklarasi pencapresan itu kemungkinan akan digelar di acara Kongres Perindo akhir tahun nanti.

Untuk menyukseskan langkah itu, Tanoe sudah menginstruksikan kader dan pengurus di berbagai daerah agar makin sering terjun langsung ke lapangan melayani masyarakat. Tak dipungkiri, Tanoe berharap manuvernya ini bisa meningkatkan elektabilitas Perindo.

Manuver ini tentu saja bikin heboh jagat politik. Maklum, selama ini Tanoe kerap bersebrangan dengan pemerintah. Malah, Tanoe terlihat lebih mesra dengan partai yang berada di kubu oposisi. Tak heran karena di Pilpres 2014, Tanoe berada dalam barisan pendukung pasangan Prabowo-Hatta, yang saat itu diusung Gerindra, PAN, PKS dan Golkar. Kemesraannya dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto berlanjut di Pilgub DKI Jakarta dengan ikut mendukung pasangan Anies-Sandi.

Selain itu, Tanoe dikenal sebagai politikus yang lantang. Beberapa kali pengusaha yang masuk daftar 100 orang terkaya di Indonesia ini melontarkan kritik tajam ke arah Jokowi. Soal ketimpangan ekonomi, pengelolaan APBN, utang dan sebagainya. Belum lagi, suatu kali Tanoe pernah menyampaikan keinginannya ikut nyapres.

Sekjen Perindo Ahmad Rofiq menjelaskan lebih rinci soal perubahan politik partainya. Pertama, kata dia, Tanoe tak pernyah menyatakan secara resmi ingin nyapres. Wacana Tanoe sebagai capres muncul dari kader dan pengurus. Hanya saja, partai juga harus realistis mewujudkan cita-cita politiknya. Menurut Rofiq, sangat mungkin cita-cita politik partainya dapat tersalurkan melalui tokoh lain.

Kedua, Rofiq menepis tudingan yang menyebut manuver politik ini untuk mengamankan kasus hukum yang melibat bosnya itu. "Nggak ada hubungannya. Ini soal politik dan kebangsaan," kata Rofiq saat dikontak, kemarin. Dia bilang, pertimbangan mencapreskan Jokowi karena visi yang sama.

Sekadar tahu saja, Tanoe saat ini sedang dirundung sejumlah kasus. Yang pertama kasus SMS bernada ancaman terhadap penyidik Jampidsus Yulianto. Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan Tanoe tersangka dan dicegah berpergian ke luar negeri. Kasus lain yang melibat Tanoe adalah kasus dugaan tindak pidana korupsi terhadap pembayaran restitusi atas permohonan PT Mobile 8 Telecom tahun 2007-2008. Jaksa Agung tengah menyelidiki keterlibatan Tanoe yang saat itu menjabat komisaris di perusahaan tersebut.

Perubahan arah politik ini tentu saja bikin kaget politisi. Mendagri Tjahjo Kumolo yang mengaku sempat bertemu lama dengan Tanoe sebelum mengumumkan keputusannya tersebut. Tjahjo bilang, dalam pertemuan itu memang membahas sejumlah hal antara lain mengevaluasi kinerja pemerintahan Jokowi-JK. Namun, Tjahjo tak menyangka ternyata setelah pertemuan itu, Tanoe langsung mengumumkan arah politiknya di media.

Kendati begitu, menteri asal PDIP ini membantah dukungan Perindo terhadap Jokowi terkait kasus hukum Tanoe. "Nggak ada barter-barteran," kata Tjahjo di Kompleks Istana, Jakarta, kemarin.

Bagaimana tanggapan Istana? Sekab Pramono Anung menilai wajar dengan perubahan politik Perindo. Adanya dukungan tersebut menunjukkan Presiden Jokowi dianggap berprestasi dan patut didukung. "Jadi wajar saja, bukan hal yang istimewa," ujarnya.

Perubahan politik Perindo ini sedikit banyak bikin gejolak di antara partai-partai pendukung pemerintah. Ada yang ikut gembira, tapi tak sedikit yang mengungkapkan kekhawatirannya. Golkar menilai langkah Tanoe layak diapresiasi. Dengan dukungan dari Perindo, akan makin banyak partai yang mengusung Jokowi. "Ini suatu hal yang positif," kata Ketua Fraksi Golkar di DPR Robert Kardinal, kemarin.

Sementara, Nasdem curiga motif dari manuver politik ini lantaran kasus hukum yang menjerat Tanoe. "Kalau ada masalah hukum, selesaikan dulu kasusnya, baru bergabung dengan kami," kata politikus Nasdem Taufiqqulhadi, kemarin.

Pengamat Politik dari UIN Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago menilai, Tanoe mulai pintar membaca arah angin. Sudah piawai dalam berpolitik. Setelah disandera kasus SMS ancaman, Tanoe mulai memahami realitas politik sebenarnya. Bahwa, menjadi partai yang kritis, tidak akan menguntungkan bagi Perindo dan nasib Tanoe sendiri.

Menurut dia, pemberitaan media-media di bawah naungan MNC Group selama ini keras mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Tapi setelah wacana dukungan Perindo untuk Jokowi, dia memperkirakan ada perubahan. "Ini kemenangan politik Jokowi. Akhirnya Tanoe dan media yang selama ini garang mengkritik kebijakan pemerintah cuma sampai di situ, menyerah tanpa syarat. Hapus mimpi nyapres," kata ungkap Direktur Eksekutif Voxpol Center ini saat dikontak semalam. ***

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA