Muhammadiyah Desak Pemerintah Prakarsai Perdamaian Israel-Palestina

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Rabu, 26 Juli 2017, 08:59 WIB
Muhammadiyah Desak Pemerintah Prakarsai Perdamaian Israel-Palestina
Muhammadiyah/Net
rmol news logo Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada korban kekerasan yang terjadi di Palestina.

Selain itu, Muhammadiyah juga mengutuk keras tindakan kekerasan yang dilakukan oleh penguasa dan tentara zionis Israel itu terhadap warga sipil Palestina yang tidak berdosa.

"Membunuh manusia yang tidak berdaya adalah perbuatan yang tidak berperi kemanusiaan, kejahatan yang sama nilainya dengan membunuh seluruh umat manusia, pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM)dan Hak-hak Masyarakat Sipil yang dilindungi oleh hukum internasional," tulis pernyataan sikap resmi PP Muhammadiyah itu, Rabu (26/7).

Selain itu, Muhammadiyah mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan Liga Arab untuk segera melakukan sidang khusus membahas langkah-langkah penyelesaian kekerasan di Palestina. Sementara kepada pihak yang bertikai, PP Muhammadiyah menyerukan untuk melakukan gencatan senjata dan menghentikan segala bentuk konfrontasi.

"Apabila dipandang telah melakukan pelanggaran dan kesepakatan damai, PBB dapat memberikan sanksi kepada Pemerintah Zionis Israel," sambung pernyataan itu.

Sementara kepada Pemerintah Republik Indonesia, PP Muhammadiyah mengimbau untuk mengambil prakarsa dan langkah-langkah diplomatik untuk menyelesaikan masalah Palestina secara komprehensif.

"Dengan kekuatan diplomatiknya Pemerintah Indonesia dapat mengangkat kembali alternatif two-states solution sebagai bagian dari road-map perdamaian Israel-Palestina," lanjut pernyataan yang ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah Bahtiar Effendy dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Moe’ti itu.

Lebih lanjut, Muhammadiyah menyerukan kepada umat beragama, khususnya umat Islam, untuk menggalang solidaritas politik, kemanusiaan, dan dukungan spiritual bagi perjuangan rakyat Palestina.  Terlebih, semua agama secara gamblang mengajarkan kepada pemeluknya untuk membela kaum yang tertindas dan terdzalimi.

"Walaupun nuansa keagamaannya sangat kuat, konflik Israel-Palestina bukanlah merupakan konflik agama dan antar agama, tetapi lebih merupakan konflik politik. Karena itu, dalam memberikan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina hendaknya lebih mengedepankan aksi-aksi solidaritas moral, spiritual, kemanusiaan, dan politik dengan menghindari aksi yang anarkistis," tutup pernyataan itu. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA