Kondisi ini membuat Anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto terheran-heran. Politisi PDIP ini pun langsung menyoroti peran Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam menstabilkan harga barang kebutuhan pokok.
Kata Darmadi, Bulog belum sepenuhnya menunjukkan keberpihakan kepada petani. Sebagai perusahaan plat merah yang diberi penugasan untuk lakukan pembelian komoditas pertanian saat harga di tingkat petani jatuh, mestinya Bulog tidak mikir untung-rugi lagi.
“Seharusnya Bulog berani melakukan penetrasi saat petani kesusahan,†katanya kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (26/5) malam.
Sebelumnya, Edward Jamil, seorang petani bawang merah dari Desa Alahan Panjang, Kabupaten Solok, mènuturkan bahwa harga bawang di daerahnya turun drastis. Saat ini harga bawang merà h hanya di kisaran Rp 12.000 sampai Rp 13.000 per kilogram untuk jenis jumbo dà n Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per kilogram untuk jenis super.
Padahal, kata Edward, beberapa bulan yang lalu, ketika Mènteri Pertanian datang ke Solok, harga bawang berada pada posisi Rp 24.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Pada saat itu, Bulog berjanji akan dibeli di kisaran harga Rp 15.000 per kilogram jika harga bawang di pasaran sedang jatuh.
“Namun, pada saat harga jatuh Rp 12.000 per kilogram, petugas Bulog tidak pernah kelihatan,†cetusnya.
“Petugas Bulog tidak kelihatan. Mereka sepertinya cuek saja dengan derita kami,†kata Muknaldi, rekan Edward.
Darmadi mengingatkan, Bulog seharusnya berada di garda terdepan membela petani. Makanya, dia menyayangkan sikap Bulog yang kadang tidak berani langsung membeli hasil panen para petani padahal harga sedang jatuh.
“Kemarin Bulog sudah di-support BRI sebesar Rp 27 triliun. Memang, untuk beli barang hasil pertanian sementara ini masih terbatas. Ini yang menyebabkan Bulog kadang enggak berani. Tapi, perlu diingat bahwa harga hancur itu kan karena pasokan banyak. Nah, di situ sebetulnya harus ada intervensi Bulog lakukan pembelian agar harga tidak anjlok,†jelasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: