Pesan yang disampaikan Jaya dalam ajang World Press Freedom Day (WPFD) 2017 yang diselenggarakan PWI Pusat di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Senin (1/5).
"Kemendikbud selaku pemerintah harus memasukkan mata pelajaran ketahanan sosial. Ini penting sekali," ujar Jaya dalam diskusi 'Memerangi Hoax, Memperkuat Media Siber Nasional' tersebut.
Jaya berbagi pengalaman saat mengajar di Jerman tahun 1970-an lalu. Saat itu, ada mata pelajaran ketahanan sosial. Setiap warganya, sejak kecil diajak membahas pemberitaan dan iklan di koran.
Khususnya, terkait berita atau iklan yang menyesatkan alias. Setelah itu, mereka membahas dan mengambil keputusan, terkait informasi mana yang benar dan tidak.
"Artinya, silakan saja hoax merajalela. Tapi, insan dididik untuk memilah mana yang benar dan keliru. Ngga ada masalah," papar anggota dewan penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) itu.
Kemudian, untuk pihak jurnalis, terang Jaya, perlu menerapkan jihad Al-Nafs. Yaitu, upaya untuk menaklukkan diri sendiri. Tujuannya, agar dapat mengontrol terjadinya hoax dalam pemberitaan.
"Kaum profesional (jurnalis), harus menerapkan jihad Al-Nafs. Supaya bisa menaklukkan diri sendiri. Wartawan, termasuk saya, perlu belajar cara menaklukkan diri sendiri. Bukan (menaklukkan) orang lain," demikian Jaya.
Dalam diskusi itu, dihadiri juga oleh Deputi IV Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, Ketua Ketua Harian Jawarah, Agus Sudibyo dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI, Wina Armada Sukardi.
[rus]
BERITA TERKAIT: