Tak Mau Disebut Pahlawan

Senin, 01 Mei 2017, 09:41 WIB
<i>Tak Mau Disebut Pahlawan</i>
Dadang Merdesa/Dok
BIASANYA, yang teriak-teriak cinta NKRI harga mati, belum tentu bukan keturunan pejuang. Biasanya setiap anak atau cucu pejuang, jarang menyebut sebagai keturunan pahlawan.

Misalnya, buyutku Haji Hasan di Negeri Bagian Garut, tahun 1919, berontak pada Hindia-Belanda, tewas empat. Yang hidup dibuang ke Digul dan Sawahlunto. Jadi Digulis pertama adalah dari Garut.

Kemudian kakek aku dari bapak, kiai yang jadi pedagang, yang tak mau jadi pendakwah, dengan alasan tak mau jual ayat. Dari keuntungan berdagang buat membangun Pesantren. 5 tahun kemudian, ada kiai yang memimpin sebuah pesantren di kampung di mana ayah saya dilahirkan, melaporkan bahwa pesantren yang dipimpinnya 100 persen dibiayai oleh ayahnya bapak saya.

Rupanya kakek aku dengan sengaja tak memberi tahu, dan tak ada penjelasan ilmiahnya. Boleh dikasih tahu, kalau sudah 5 tahun setelah meninggal....

Bahkan buyut yang satu lagi, Haji Hussein adalah orang terkaya se Garut pada zaman Hindia - Belanda. Ketika sebelum meninggal, memberikan amanat, bahwa Sawah yg sangat luas, kebun dan jeruk dihibahkan ke seluruh masyarakat. Adapun semua anak-anaknya, sama sekali tak diberi warisan...

Lalu kakek aku dari Ibu, yang bernama Yudinta, setelah pulang hijrah dari Jogjakarta memimpin Laskar Hizbullah. Ketika hendak pulang ke Garut karena tak setuju dengan DI-TII, kakek aku malah ikut tetap mengawal Soekarno-Hatta ke Jakarta.

Dengan meninggalkan rumah, ladang, sawah, kebun jeruk dan empang dari hasil berniaga. Dan kakek aku tak pernah kembali pulang ke Garut. Semua harta benda diambil sama penduduk sekitar. Sampai meninggalnya kakek aku di Jakarta tak punya rumah.

Pernah ketika Uwa aku diberi rumah pengganti dari Bang Ali Sadikin di daerah Menteng, mungkin hasil rampasan dari orang Belanda, Uwa aku menolaknya, malah marah ke Bang Ali, "Sadikin, jangan menghina keluarga aku yaaah, kami berjuang melawan Walanda, bukan untuk mendapatkan Upah...!!!"
Lalu jawab Bang Ali, "Dasar jalma anu gelo siah mah, Dayat...!!!"

Semua kakek-kakek aku itu dari keluarga Kiai sekaligus pejuang, yang menolak disebut pahlawan, bahkan kisah hidupnya tak mau diceritakan pada anak-anaknya. Mungkin takut menjadi Ria-Jenaka...

Dan hampir seluruhnya, kakek-kakek kami tak naik haji, sebab setiap uangnya terkumpul, untuk berangkat haji, selalu dibagikan ke penduduk sekitar kampung yang tak punya pekerjaan. Begitu selalu sepanjang hidupnya tak pernah berangkat haji, namun berakhlak Islam yang Paripurna...

Lho tapi kenapa aku jadi cerita kePAHLAWANan keluarga aku yaach...?? Habis gegara di grup WA pada teriak NKRI HARGA MATI... NKRI kok harga mati, seharusnya INDONESIA HARGA HIDUP dan menghidupi RAKYAT TERTINDAS...Tentunyaaahh...[***]

Dadang Merdesa

@PelukisMerdesa 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA