"Ada cukup banyak yang dipertaruhkan, karena sebagian besar dari bagaimana pemilih telah dibingkai dengan isu-isu yang bukan berkaitan dengan Jakarta, melainkan soal politik identitas itu sendiri," kata Ian Wilson, seorang peneliti di Asia Research Center di Australia Murdoch University.
Ia menjabarkan bahwa tensi politik semakin meningkat sejak putaran pertama digelar Februari lalu dengan hampir 43 persen suara dikantongi calon incumbent, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.
Ahok, bahkan sejak putaran pertama digelar, kerap dipermasalahkan oleh kelompok garis keras yang anti-Ahok dengan melaporkannya soal dugaan penistaan agama.
Isu SARA pun mewarnai proses pilkada DKI Jakarta beberapa waktu terakhir, terutama terkait isu non-muslim dan keturunan China yang merupakan identitas Ahok.
Wilson menilai bahwa tensi perpolitikan di DKI Jakarta ini mengejutkan karena terjadi di negara dengan konstitusi sekuler dan tradisi panjang pluralisme.
"Saya pikir banyak orang Jakarta-China yang merasa cemas tentang apa yang akan terjadi, terlepas dari hasilnya," kata Wilson seperti dimuat
CNN.
[mel]
BERITA TERKAIT: