"Kita perkirakan satu TPS hingga 100 orang. Dan itu bukan hal sulit untuk kita koordinasi. Aksi 7 ribu umat aja bisa kok kita kumpulkan," ungkap Sambo kepada wartawan di masjid Al Ittihaad, Tebet, Jakarta, Minggu (16/4).
Ia meyakinkan bahwa gerakan tersebut hanyalah aksi wisata untuk memantau jalannya pilkada, jadi tidak ada hukum apa pun yang dilanggar.
"Kita menginginkan pilkada ini damai, jurdil dan kita akan memastikan bahwa itu terjadi," jelasnya.
Masyarakat yang turut serta, malam sebelum pemilihan akan menginap di masjid dekat TPS yang sudah ditentukan. Tepat pada 19 April waktu pencoblosan, masyarakat yang mayoritas merupakan alumni aksi 212 akan mulai mengawal di TPS.
"Tugasnya hanya memantau, potret-potret. Jaraknya ya sekitar 15 meteran dari TPS, hanya memantau dari luar. Sehingga jika terjadi kecurangan kita ada bukti juga banyak saksi untuk bisa naik ke Mk," lanjutnya.
Setelah selesai perhitungan, peserta tamasya Almaidah akan berkumpul di Masjid Istiqlal. "Semua berkumpul ke Istiqlal kita akan lakukan takbir kemenangan disitu," ujar Sambo.
Ia menambahkan, inisiatif tamasya Almaidah karena adanya kekurangpercayaan terhadap polisi dan petugas TPS yang berjaga. Ia bertujuan untuk menambah kekuatan penjagaan untuk meminimalisir kecurangan.
"Itu karena kemarin faktanya sudah banyak laporan-laporan dan tidak ditindak lanjuti. Kita mau terlibat kok. Kenapa kita yang disalahin? Justru Kalo ada yang curiga, jangan-jangan pihak yang curiga itu yang mau bikin kecurangan," pungkasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: