"Pilkada DKI Jakarta 2012 merupakan bukti jika koalisi gemuk bukan lagi jaminan untuk dapat memenangkan pilkada meskipun berstatus sebagai petahana. Sebaliknya, meskipun diuntungkan secara perhitungan hasil putaran pertama, calon penantang petahana punya tugas lebih berat karena harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa visi misi yang ditawarkan akan memberikan jaminan lebih baik," jelas pengamat politik Jajat Nurjaman kepada wartawan, Rabu (8/3).
Dia menjelaskan, tantangan lain dalam putaran dua Pilkada DKI adalah meminimalisir terjadinya golongan putih (golput). Pada pemungutan suara putaran pertama 15 Februari lalu, jumlah golput mencapai 23 persen atau setara dengan 1.668.902 pemilih.
Menurut Jajat, masa kampanye kedua ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan penjelasan berbagai program yang ditawarkan kepada masyarakat, khususnya pemilih yang pada putaran pertama tidak memberikan hak pilih. Karena tidak menutup kemungkinan potensi golput di putaran dua nanti akan bertambah.
"Kemenangan dalam demokrasi adalah meyakinkan masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam proses pemilihan. Pasalnya, pemahaman akan pentingnya demokrasi lebih penting dari sekedar menentukan menang atau kalah. Jika dalam putaran kedua nanti jumlah golput menurun, saya kira itulah kemenangan yang sebenarnya karena Pilkada DKI merupakan barometer politik nasional. Untuk itu meminimalisir terjadinya golput merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan semua pihak," beber Jajat yang juga direktur eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID).
[wah]
BERITA TERKAIT: