Ngomong soal tikus, jadi inget si Jarot. Dia punya program hebat. "Tikus Berbayar". Bangke tikus bisa diuangkan. Ambil di Balai Kota. Bawa bukti mayatnya. Addie Massardi ngakak. Soalnya tikus ga ber-KTP. Jarot dan Pemprov pasti kesulitan memilah mana tikus DKI, Bogor, atau Tangerang.
Tapi ini program hebat. Bisa bikin ketawa orang. Jadi bahan bully seantero negeri. Bravo Badja. Bajing Djakarta.
Kasir Alfamart senang. Dia tanya, "Pro Nomor 3 juga ya pak?" katanya, "Di daerah saya menang pak. Saya punya kaos yang lengannya kuning."
Dia tinggal di sekitar Citra Garden II.
Lantas saya tanya kondisi di Cengkareng, Peta Selatan, Rawa Lele dan daerah sekitarnya. Dia bilang, Anies Sandi dominan. Lalu AHY.
"Kalo Ahok gimana?" tanya saya.
"Wah ngga ada pilih dia pak. Cuma di perumahan aja. Di luar itu, ngga ada yg milih," kata si Kasir.
Ada seorang ibu etnik Tionghoa. Lewat setengah baya. Nunggu antrian. Sedari tadi dia ingin nimbrung ngobrol. Terlihat dari matanya.
Saya tanya, "Encik gimana, blum tobat-tobat ya. Masi pilih Ahok?"
Dia menjawab, "Kalo di daerah saya, di Jembatan Lima, masi banyak yang pro Ahok. Saya juga."
"Ooh daerah Kerendang ya?" tanya saya.
Tipologi Kerendang dan Jembatan Lima, sama seperti komplex perumahan, diisi orang-orang Tionghoa. Dari Singkawang, Medan, Pontianak dan sebagainya.
"Ahok bagus lho. Jalanan jadi bersih. Agus mana bisa. Masih bau kencur," kata si encik.
Saya dan si kasir pandang-pandangan. Ngga tau mesti ngomong apa. Si encik kok kampanye ke kita. Heran, ada satu ciri khas prohok. Mereka terbelakang. Minim pengetahuan. Modal nekad. Rasis dan fanatik Kristen. Autis akut. Schizoprenia endemik.
[***]
Penulis adalah Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi
BERITA TERKAIT: