Demikian disampaikan Presiden Indonesia Kelima, Megawati Soekarnoputri, saat menyampaikan Pidato Kebudayaan pada Konferensi Internasional Arsip Gerakan Non-Blok sebagai Memory of the World UNESCO di Aljazair (23/10).
"Saatnya kita memperjuangkan dengan lebih serius agar arsip Gerakan Non Blok ditetapkan sebagai Memory of The World oleh UNESCO. Menjadikannya bukan hanya sebagai memori kolektif rakyat Indonesia, Aljazair, maupun negara-negara yang terlibat KTT Non Blok Pertama. Namun, menurut saya memang sudah menjadi tugas sejarah kita, kewajiban sejarah yang kita emban, agar menjadikannya memori dunia," tegas Megawati.
Dunia saat ini, Megawati mengingatkan, telah masuk abad ke 21. Maka menjadi sebuah pertanyaan mendasar apa tujuan konsolidasi negara-negara GNB ke depan.
"Akankah kita melupakan ikatan sejarah, lalu semua relasi yang kita bangun hanya didasarkan pada untung rugi ekonomi semata? Dapatkah kita kembali menumbuhkan ikatan emosional agar kita dapat membangun kerjasama yang dapat menciptakan kesejahteraan rakyat di masing-masing negara?" tanya Megawati.
Oleh karena itu, sambung Megawati, dibutuhkan memori atas peristiwa penting peradaban manusia, yang terjadi pada abad 20 yang dipelopori para pendiri bangsa-bangsa di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin, dari memperjuangkan kemerdekaan, maupun membangun kerjasama untuk mengisi kemerdekaan. Ke semua arsip KAA dan Gerakan Non Blok, tidak boleh lagi hanya menghuni ruang-ruang kertas dan dokumentasi yang dingin dan terabaikan.
Menurut Mega, menjadikannya memori dunia adalah sebuah upaya kolektif antar bangsa untuk melahirkan generasi-generasi yang tidak buta sejarah, generasi-generasi yang tidak kehilangan semangat nasionalisme, namun tetap terlibat dalam hubungan internasional yang bebas aktif. Hubungan yang juga seharusnya tetap berdiri tegak dalam era globalisasi.
"Pasar bebas di era modern sekarang ini, perlu memori pengingat, agar dunia tidak menjadi tempat tumbuh suburnya eksploitasi atas nama investasi, atau menumbuhkan semangat nasionalisme sempit seperti fasisme, termasuk kekerasan yang mengatasnamakan apa pun," demikian Megawati.
[ysa]
BERITA TERKAIT: