"Hingga Desember 2016, kami tergetkan sudah ada 300 e-warong dan 2017 menjadi 3000 di seluruh Indonesia," kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 1/9).
Setiap e-warung, kata Mensos, merupakan agen dari bank yang menjadi mitra. Sebelumnya mereka akan diberikan pelatihan SDM melalui bimbingan teknis (bimtek) untuk mengelola e-warung tersebut.
"Pengelola e-warong adalah mereka penerima bantuan sosial PKH melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam bentuk legal pendirian koperasi," ucapnya.
Untuk di Pulau Jawa sebagian besar e-warong menjadi mitra BNI, di Sumatera BRI, serta sebagian wilayah di Pulau Jawa dan Bali oleh BTN. Tentu saja, bagi daerah yang sudah mendapatkan layanan dan akses internet.
"Daerah yang sudah mendapatkan layanan dan akses internet bisa mendapatkan e-warung. Sedangkan bagi daerah yang belum, tetap akan diberikan dalam bentuk tunai," kata Khofifah.
Setiap e-warung merangkap sebagai agen dari bank mitra. Pengelola bisa mendapatkan income tambahan dari kegiatan usaha maupun kemitraan dengan Perum Bulog yang mensuplai empat produk pangan yang dijual.
Pengelola e-warong bisa mendapatkan income tambahan dari kegiatan usaha dan kemitraan, misalnya, beras dan gula dari Bulog dalam karungan lalu dikemas menjadi bentuk kecil-kecil dan di situ ada tambahan, †tandasnya.
Kementerian Sosial (Kemensos) menghitung dalam dua tahun warga penerima manfaat PKH yang menjadi pengelola e-warong sudah bisa menjadi keluarga mandiri.
"Melalui kehadiran e-warong tersebut, akan terjadi percepatan dari keluarga-keluarga penerima PKH yang menjadi pengelola segera bisa mandiri," harapnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: