Hal ini bukan suatu kebetulan. Dengan pengalaman menjadi partai penguasa di pemerintahan, karakter politik Golkar tidak akan pernah jauh dari kekuasaan, mereka tidak terbiasa menjadi oposisi seperti PDIP.
Menariknya buah dari kemenangan PDIP baik di legislatif maupun pilpres kemarin seolah pupus dengan dukungan Golkar untuk menjadikan Presiden Jokowi maju untuk kedua kali pada pilpres yang akan dtatang. Manuver Golkar terhadap Jokowi tidak berdiri sendiri, namun satu paket dengan dukungan Golkar secara bulat unutk mendukung Basuki Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta pada pilkada 2017. Walau punya catatan yang tidak sebaik dalam hubungan berpartai namun inilah politik tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, semua hanya kepentingan.
Pilpres 2019, tidak terlepas dari perubahan politik ibukota Jakarta. Setelah kader PDIP yang saat ini duduk sebagai Presiden sudah didukung oleh Partai Golkar, bahkan Gubernur DKI Ahok yang diusung pada Pilkada 2012 oleh PDIP juga sekarang sudah dideklarasikan oleh Golkar. Akankah PDIP sebagai partai pemenang Pemilu akan jadi "pengekor" atau larut dalam gendang permainan partai Golkar, kita lihat dalam waktu dekat ini apa yang akan terjadi. Pertaruhan pilpres ada di pilkada Jakarta 2017.
Bila PDIP hanya ingin menjadi pengekor atau menjadi penantang akan menjadi gambaran kontestasi pemilu 2019. Selamat berjuang kawan, jagan mengulangi kesalahan yang sama. Merdeka!!!!
Penulis adalah Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta), Alumni GMNI
BERITA TERKAIT: