Yusril mengaku hanya berpegang pada ucapan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.
"Ucapan pemimpin itu kan 'sabdo pandito ratu' bukan ucapan orang sembarangan," kata mantan Menteri Kehakiman dan Menteri Sekretaris Negara itu
Jelas Yusril, dirinya pernah menemui Prabowo didampingi Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, M. Taufik.
Prabowo kala itu mengatakan ada dua pedoman dalam memutuskan calon gubernur. Pertama, visi misinya sejalan dengan Gerindra. Kedua, elektabilitasnya paling tinggi untuk bisa mengalahkan petahana.
"Kepada saya waktu itu Pak Prabowo mengatakan, 'begini Pak Yusril, silakan Pak Yusril lakukan sosialisasi. Kalau nanti Pak Yusril yang paling tinggi elektabilitasnya, saya akan dukung Pak Yusril. Buat apa kita dukung orang yang bakal kalah'," ucap Yusril menirukan Prabowo.
Yusril termasuk salah satu dari tiga nama bakal calon gubernur yang diajukan DPD Gerindra Jakarta ke DPP Gerindra. Selain Yusril, dua nama lain adalah Sjafrie Sjamsoeddin dan Sandiaga Uno.
Seharusnya, DPP melalui sebuah tim akan memutuskan salah satu dari tiga nama itu untuk diusung sebagai calon gubernur.
Namun, ada elite DPP yang mendadak mewacanakan pasangan Komisaris Jenderal Pol Budi Waseso (Kepala Badan Narkotika Nasional) dengan Sandiaga Uno. Menanggapi wacana itu, Yusril mengaku telah mengetahuinya.
"Belakangan ada nama-nama baru di luar yang ikut penjaringan. Saya tidak memahaminya. Mungkin saja ada kebijakan baru DPP Gerindra yang saya belum tahu," ungkapnya.
Meski demikian, Yusril tetap akan mengikuti mekanisme internal yang berlaku.
"Sampai hari ini saya belum tahu siapa di antara tiga nama itu yang akan diusung Gerindra. Mudah-mudahan kriteria dalam memutuskannya sama dengan apa yang dikatakan Pak Prabowo kepada saya. Hanya itu yang saya pegang dari ucapan Ketum Gerindra," pungkasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: