"Saya hormat kepada perjuangan Muhammadiyah yang meminta dan mengawal otopsi Siyono. Berkali-kali saya meminta kepada yang berwenang melakukan tindakan Indonesiawi," kata KH Hasyim kepada redaksi, Senin (4/4).
Menurutnya, pola pemberantasan terorisme di Inddonesia haruslah untuk kepentingan semata-mata keselamatan Indonesia. Jangan menggunakan pola Americani atau Westernisasi. Sebab, katanya, perang terhadap terorisme oleh pihak barat sebenarnya bukanlah semata-mata hanya kepentingan masalah bangsa, tapi punya kepentingan lebih luas dan komprehensif.
Karena itu, lanjut KH Hasyim, gerakan Muhammadiyah perlu diapresiasi agar tetap ada unsur keadilan dalam masalah Siyono. Menurutnya, PBNU saat ini belum dapat melakukan hal ini karena ‎sudah terjerat berbagai kepentingan.
"Dan untuk itu memang perlu otopsi guna mengukur apakah ada overacting dari Densus 88 atau tidak," katanya.
"Langkah Muhammadiyah bisa disebut mewakili umat Islam dan rasa keadilan Indonesiawi. Sesuatu yang sudah sulit diharapkan dari PBNU. Karena lilitan liberalisasi dan parpolisasi," keluh Hasyim yang saat ini mengaku lebih senang disebut sebagai anggota NU biasa seperti warga nahdliyin lainnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: