Meski demikian dirinya mengaku tidak akan memperpanjang kasus tersebut keranah hukum.
"(Bukti) sudah dikumpulkan, saya bilang stop sampai disitu. Itu untuk internal saja. Surat, tanda tangan pengakuan sudah saya rekam, yang bersangkutan mengatakan bahwa mereka diarahkan oleh tim suksesnya. Saya bilang stop disitu saya anggap itu sebagai pembelajaran kepada yang lain untuk tidak melakukan hal yang sama ditempat lain. Stop lah itu karena itu akan merusak Partai Golkar," ungkap Nurdin saat ditemui sesai acara silaturahmi barisan muda dan sayap organisasi Partai Golkar di Aula DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Jumat (19/2).
Lebih lanjut Nurdin mengungkapkan, kronologis pemberian dukungan itu terjadi sebelum pertemuan silatrahmi DPD I dan DPD II beberapa waktu lalu. Ketua DPD II di wilayah Sulawesi utara memberitahu kepadanya bahwa bakal calon ketua umum Partai Golkar meminta dukungan.
"Kronologisnya dia jelaskan dari resepsionis dia masuk ke kamar disuruh tanda tangan pernyataan dukungan, setelah itu diserahkan amponya, ini sebelum pertemuan," jelas Nurdin.
Dia menambahkan cara seperti itu seharusnya tidak perlu dilakukan karena bisa merusak organisasi partai. Apalagi saat ini Golkar menginginkan pemimpin yang bersih dan dapat membawa Golkar menuju perubahan yang lebih baik.
Menurutnya, bakal calon seharusnya lebih mensosialisasikan program, misi serta kemampuannya dalam memimpin partai dan bukan menonjolkan politik transaksional.
"Saya sudah hubungi semua calon-calon yang menghubungi saya dan yang saya kenal untuk hentikan itu. Silakan miminta dukungan tapi tidak transaksional, karena itu akan merusak Partai Golkar. Mari kita ciptakan suasana demokrasi di internal Partai Golkar dengan memberikan pencerahan demokrasi bagi bangsa ini," demikian Nurdin.
[sam]
BERITA TERKAIT: