"Kita seolah-seolah tak tahu arah perkembangan negara ini mau tertuju kemana, tidak ada gambaran. Antar lembaga berjalan sendiri, MPR, DPR, DPR berjalan sendiri, MK berjalan sendiri adanya Konflik KPK dengan kejaksaan, kejaksaan dengan kepolisian, kepolisian dengan KPK, serta benturan antara Komisi Yudisial dengan Polri. Inilah dampak kita meninggalkan pancasila," ungkap Basarah ditemui seusai sosialisasi Empat Pilar MPR di SMA 4 Malang, Malang, Jawa Timur, Sabtu (31/10)
Basarah menambahkan, dampak lain hilangnya nilai-nilai mental dan Idiologi bangsa adalah lebih mudahnya Idiologi asing masuk ke Indonesia. Seperti yang terjadi sekarang ini pada kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah yang berbau neoliberal.
"Era reformasi ini, Pancasila dieliminasi dan bereksperimen di Pancasila. Indonesia sekarang telah menjadi laboratorium praktek trans idiologi di dunia. Neoliberalisme dengan fundamentalisme pasarnya. Memperngaruhi berbagai macam kebijakan perundang-undangan. Ekonomi kita menjadi liberal dan berorientasi kepentingan kapitalis," cetusnya
Menurut Basarah penerapan Idiologi memiliki tiga faktor, pertama adalah keyakinan, kedua pengetahuan yang terakhir adalah tindakan dari faktor pertama dan kedua. Namun hingga saat ini penerapan Pancasila di masyarakat tidak menyentuh ketiga faktor tersebut
"Sekarang keyakinan kepada Pancasila dimana? abstrak tidak ada parameternya. Pengetahuannya kecuali lima sila itu saja. Malah sudah ada yang lupa. Kalau tidak ada keyakinan, tidak ada pengetahuan bagaimana melakukan tindakan yang sesuai dengan Pancasila," ujar politisi PDI Perjuangan itu
Untuk itulah, dirinya meminta pemerintah membuat badan khusus yang bertugas melaksanakan kegiatan sosialisasai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, nilai-nilai Pancasila hingga ke tataran praksis pembudayaannya
"Karena hari ini bangsa Indonesia tidak punya penoman untuk memahami nilai-nilai Pancasila itu tidak tahu apa yang dibaca," tandasnya.
ysa]
BERITA TERKAIT: