Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin, kepada
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Rabu, 13/8).
Dia mengkritik pertemuan Presiden SBY dengan Senator Amerika Serikat, John McCain, di Istana Negara, kemarin. John Sidney McCain adalah senator berusia 77 tahun yang mewakili negara bagian Arizona.
Salah satu materi penjelasan SBY kepada McCain adalah tentang upaya pemerintah RI meningkatkan postur dan kemampuan tentara, termasuk penambahan dan modernisasi alat utama sistem persenjataan.
"Saya kira begini, kalau kepala negara secara resmi bicara kepada senator yang mewakili sebuah wilayah tertentu, wilayah di negaranya sana, tentu subjek pembicaraaannya bukan subjek yang sangat strategis dan sensitif," kata TB Hasanuddin.
Menurut dia, seharusnya SBY hanya membahas hal lain yang tidak sensitif seperti alutsista. Malah akan lebih pas jika SBY dan McCain membahas hubungan kedua negara, bukan teknis persenjataan.
"Mungkin lebih pas SBY bicara tentang integrasi Papua yang sering juga dibicarakan para senator di AS dan Inggris. Yang bicara pertahanan itu lebih pas menteri pertahanan atau parlemen dari Komisi Pertahanan," jelasnya.
Karena kejanggalan itu, mantan Sekretaris Militer Presiden itu jadi menduga-duga McCain adalah utusan kelompok atau seseorang yang berpengaruh di AS.
"Dia ajak presiden kita bicara persenjataan dengan misi tertentu. Misalnya dia datang ke sini mungkin ada pesanan titipan, dari misalnya produsen senjata tertentu, bisnis senjata," ujarnya.
Meski ada dugaan begitu, karena pembicaraan SBY dan John McCain itu terjadi di ujung periode jabatan SBY, maka Komisi I tak akan membawa secara khusus isu pertemuan itu harus ke rapat Komisi. Tidak ada urgensi meminta penjelasan presiden.
"Dia (SBY) sebentar lagi
finish, jadi mungkin tak perlu dimintai keterangan," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: