Yang kalah katanya bisa bikin sabotase dan macam-macam anarkisme, dan lalu ada kemungkinan pihak ketiga ikut bermain mengambil keuntungan di air keruh sehingga terjadi chaos, dan negara katanya bisa diberlakukan dalam keadaan darurat, seperti halnya terjadi di Mesir atau Suriah.
Kalau sudah begini katanya rakyat juga yang tertekan dan negeri mengalami setback atau semacam undur-undur berjalan di tempat. Makanya banyak yang berharap cukuplah perbedaan pendangan mengenai capres-cawapres cuma sampai tanggal 9 Juli besok, saat dimana rakyat mencoblos menentukan pilihan masing-masing, dan setelah 9 Juli yang "menegangkan", semua bisa kembali rukun, tidak perlu bersikap ngalah, ngalih, ngamuk (mengalah, mengalih, tetapi akhirnya mengamuk) lantaran tidak siap kalah.
Memang katanya demokrasi di Indonesia baru sampai pada tahap cara melipat kertas suara dan memasukannya ke dalam kotak, lima tahunan sekali.
Apakah kampanye pemilunya penuh fitnah, perpecahan, atau bellum omnium contra omnes (perang semua melawan semua), itu katanya tidak penting.
Naik ke tampuk kekuasaan dengan cara-cara keji (ruthless) dan cara-cara kotor katanya di Indonesia itu sudah biasa.
Makanya seringkali dikeluhkan pemilihan umum yang mencapai triliunan tidak menghasilkan negarawan, melainkan cuma menambah pemain baru di lapangan politik. Sehingga ada yang tanya: kalau demikian prosesnya bagaimana dengan pemerintahannya, bagaimana dengan kabinetnya? Apakah rezim baru produk Pilpres 2014 akan sama tidak menariknya dengan pemerintahan hari ini, masih sama-sama diganduli oleh dua persoalan besar, KKN dan Feodalisme.
Tapi katanya negarawan memang tidak lahir dari pemilihan umum dan bukan datang dari popularitas yang didisain. Makanya katanya Indonesia masih boleh bersyukur masih punya segelintir negarawan seperti Sultan HB X atau intelektual seperti Dr Rizal Ramli yang tidak kemana-mana, tidak ikut kubu capres-cawapres sebelah sana atau kubu capres-cawapres sebelah sini.
Tanggal 9 Juli besok rakyat nyoblos, milih pemimpin untuk kurun waktu lima tahun ke depan, dan seperti kata banyak orang bijak: jangan sampai salah pilih dan jangan seperti beli kucing dalam karung. Lima menit di bilik suara, jika salah dalam memilih, penyesalannya mungkin bukan hanya lima tahun, sangat mungkin penyesalan berlangsung seumur hidup, sebab milih pemimpin yang benar memang sulit, yang ada umumnya cuma pemimpin kebeneran alias kebetulan.
[***]Penulis adalah pengasuh rubrik Vox Populi Harian Rakyat Merdeka. Tulisan dimuat pada edisi Selasa, 8 Juli 2014.
BERITA TERKAIT: