Demikian disampaikan Presiden SBY pada pidato pengukuhannya sebagai Profesor di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat, kemarin (Kamis, 12/6). Isu pertama, menurut SBY, adalah redefinisi tentang persepsi ancaman terhadap kepentingan nasional.
Menurut dia, dewasa ini ancaman terhadap kepentingan nasional bisa berupa ancaman militer, ekonomi, ideologi dan nilai-nilai dasar yang kita anut, serta politik dan kedaulatan. Selain itu, kata SBY, bencana alam, perubahan iklim dan wabah penyakit juga termasuk ancaman. Karenanya strategi dan cara yang dilakukan harus sesuai dengan ancaman-ancaman tersebut.
Isu kedua, kata SBY, adalah implikasi dari perubahan dan pergeseran geopolitik yang baru. SBY mencontohkan apa yang terjadi di kawasan Asia Timur dan Laut Tiongkok Selatan.
"Konflik teritorial antara Tiongkok dan Jepang di Asia Timur saat ini berada dalam fase yang membahayakan. Situasi seperti ini tentu memaksa Indonesia, sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, untuk menentukan sikap yang tepat," papar SBY
seperti disiarkan
presidenri.go.id.
Isu ketiga adalah perang dingin baru. Menurut SBY, terlalu dini dan tidak boleh gegabah untuk mengatakan bahwa kini dunia kembali memasuki Perang Dingin. Bubarnya Uni Soviet dan Pakta Warsawa, kata SBY, pihak Barat telah memperlakukan Rusia sebagai mitra dalam berbagai kerja sama. misalnya dalam G-8 dan G-20.
Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik telah berdiri forum APEC dan East Asia Summit yang disamping 10 negara ASEAN, dan 6 negara di kawasan Asia, juga diajak dan diwadahi keberadaan AS dan Rusia dalam forum penting tersebut.
"Tanpa harus terseret-seret ke kubu manapun, Indonesia harus tetap bisa memainkan peran yang konstruktif," tandas SBY.
BERITA TERKAIT: