Oleh karena itu, pernyataan Pengamat Politik Tjipta Lesmana yang meragukan kenetralan rilis survei Sorpindo diduga lantaran dia tidak aktif dalam forum-forum online atau bahkan tidak memiliki akun
facebook maupun
twitter.
“Sehingga Tjipta tidak dapat memahami mapping suara rakyat atau rekaman perbincangan rakyat di media online, forum online ataupun media sosial seperti
twitter,†beber Ketua Dewan Pakar Sorpindo Agung Suprio kepada
Rakyat Merdeka Online, Minggu (27/10).
Hasil survei dari lembaga survei, dalam kacamata Sorpindo, sudah tidak dapat dipercaya karena bisa dengan mudah dimanipulasi dan direkayasa. Sementara mapping (pemetaan) di media online tidak dapat dibuat-buat karena siapa saja dapat mengakses data tersebut. Selain itu, masih menurut Agung, hasil temuan Sorpindo merupakan sebuah mapping suara masyarakat, bukan jajak pendapat.
Tujuan survei ini, lanjut Agung, untuk memberikan gambaran mengenai kekuatan setiap capres dalam mananggapi suatu isu tertentu.
“Contohnya, dalam mapping kami tanggal 26 September sampai 26 Oktober, suara rakyat yang terekam banyak berbicara soal pangan. Tetapi para tokoh dan capres paling banyak berbicara soal topik korupsi,†tambah dosen Universitas Indonesia ini.
Hal itu mengindikasikan, lanjut Agung, keenam capres tersebut gagal memahami dan mendompleng isu yang beredar di masyarakat. Dia berharap, temuannya ini dapat menjadi masukan bagi para tokoh dan capres dan tim sukses mereka.
[ian]
BERITA TERKAIT: