Hal tersebut terungkap melalui bocornya surat elektronik legal counsel Intrepid, Vanessa Chidrawi kepada Direktur Eksekutif Intrepid, Bradley Gordon yang diberitakan oleh media Australia, Sydney Morning Herald (SMH) pada 23 Maret 2013 lalu.
Dalam surat elektronik bertanggal 18 April 2008 tersebut, ditemukan fakta bahwa Vanessa, Gordon bersama Maya Ambarsari serta Reza Nazaruddin merancang skenario untuk memaksa agar pihak Paul Willis melepaskan saham pengelolaan tambang Tujuh Bukit, Banyuwangi.
Maya Ambarsari adalah Direktur PT Indo Multi Niaga (IMN) dan Andreas Reza Nazaruddin merupakan komisaris IMN. Skenario untuk mendepak Paul Willis dari pengelolaan tambang emas Tujuh Bukit itu dijalankan di suatu hotel berbintang di bilangan Jakarta Selatan.
Seperti dikutip media Australia tersebut, pihak Intrepid sendiri mengakui berupaya mengeluarkan Paul Willis secara sepihak dari kongsi bisnis mereka bersama di IMN.
"Email tersebut menggambarkan usaha kami untuk mengeluarkan Paul Willis dari IMN karena berusaha menjalin kesepakatan dengan pihak Indonesia. Keinginan itu melawan keinginan Intrepid," tulis Intrepid dalam wawancara dengan wartawan SMH.
Keinginan penguasaan tambang sepihak yang ingin dilakukan Intrepid berbuah pada gertakan yang melibatkan oknum aparat. Dalam surat elektronik tersebut, kepolisian Indonesia juga akan "digunakan" Intrepid untuk mempidanakan Paul Willis jika ia tak bersedia melepaskan kepemilikannya di IMN.
Perusahaan yang miskin portofolio di pertambangan Indonesia ini sepertinya tak percaya diri dan melawan hukum, sehingga memaksakan keinginannya lewat tekanan dalam pertemuan tersebut.
Intrepid mengatur pertemuan yang dipimpin Kepala Eksekutif Intrepid, Gordon dan Vanessa di kafe sebuah hotel berbintang di Jakarta pada 21 April 2008 silam. Intrepid menghadirkan enam orang yang berbadan tegap dan diduga membawa senjata api untuk menekan Paul Willis melepaskan hak atas IMN ke mereka. Intrepid sendiri mengakui hanya menghadirkan 3-4 orang polisi dalam pertemuan untuk membantu Paul Willis mengosongkan ruang kerjanya.
Sementara, kuasa hukum Paul Willis, Alexander Lay, enggan berkomentar banyak mengenai kliennya. Alex hanya mengatakan, kebenaran mengenai hal bocoran email itu akan dibuktikannya dalam pengadilan.
“Akan ada pembuktiannya di persidangan,†kata Alex, Rabu (3/4).
[wid]
BERITA TERKAIT: