"Mereka tidak segan-segan membawa nama Bupati Buru Ramly Umasugy dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu untuk melancarkan aksi penipuannya," kata salah satu pemilik lahan penyulingan minyak kayu putih di Gunung Botak, Nyonya Jamilah Wael di Ambon, Selasa (12/2).
Sekelompok oknum yang sering melakukan penipuan ini memungut Rp5 juta dari para pemilik tong (drum) yang berfungsi menampung limbah olahan pencucian logam mulia.
Jamilah mengatakan, para penipu yang juga mengaku sebagai anak adat asil Pulau Buru ini malahan membuat acara resmi di Kayeli dan mengundang para pemilik tong dan rencananya Bupati bersama Pangdam XVI/Pattimura akan hadir untuk meresmikan kembali pembukaan tambang emas di Gunung Botak.
Malahan Kepala Desa Kayeli yang dicatut namanya untuk hadir dalam acara pembukaan tambang tersebut ternyata sedang berada di luar daerah, jadi para penipu yang mencatut nama pejabat seperti ini tak perlu ditanggapi warga.
Isu pembukaan kembali lokasi Gunung Botak dengan membawa-bawa nama pejabat ini sudah dilakukan berulang kali dan dana yang dihimpun cukup banyak, dan akibatnya warga yang sudah menyetor jadi termakan hasutan dan berupaya masuk ke lokasi tambang.
"Selaku pemilik lahan, kami sangat mendukung pernyataan dua putera adat Pulau Buru, Hosea Tasijawa dan Ridwan Tasijawa yang menyatakan kegiatan di Desa Kayeli yang akan dihadiri Bupati Buru dan Pangdam Pattimura itu suatu pembohongan," katanya.
Sebab tujuan para penipu ini hanyalah untuk mencari keuntungan pribadi dan menghasut orang lain untuk masuk secara paksa ke Gunung Botak
. [ant/wid]
BERITA TERKAIT: