Serah terima jabatan dipimpin langsung KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, Kamis, 11 Desember 2025.
Mutasi kedua jenderal itu disahkan lewat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1448/X/2025 tertanggal 30 Oktober 2025.
Rio sendiri digeser menjadi Asisten Intelijen Panglima TNI.
Rio bukan perwira kemarin sore. Jenderal dua bintang ini adalah lulusan Akmil 1993. Deretan pendidikannya komplet mulai dari Susarcab Armed (1994), Seskoad (2008), Sesko TNI (2017), hingga Lemhannas (2020).
Karier militernya dimulai sebagai perwira Artileri Medan di Yonarmed 12/Kostrad , lalu berlayar ke berbagai medan penugasan seperti Korem 061/SK Dam III dan Yonarmed 5/105 Tarik Kodam III Siliwangi.
Nama Rio makin melesat saat ia dipercaya masuk lingkaran elite pengamanan presiden. Jabatan Asintel Danpaspampres (2014?"2015), Komandan Grup D Paspampres (2015?"2018), hingga Sesmin Kasum TNI (2018?"2019) pernah diembannya. Belakangan, ia naik menjadi Asintel Kaskogabwilhani II (2019?"2020) dengan pangkat Brigjen.
Pria kelahiran Jakarta, 3 Juni 1972 ini punya karir cukup Panjang di dunia intelijen. Jam terbang intelijennya matang ketika dipercaya menjabat Dansat Intel Bais TNI (2020?"2022), lalu Waasintel KSAD Bidang Inteltek dan Hublu (2023?"2024).
Dia juga sempat mengemban tugas sebagai Pa Sahli Tingkat III Panglima TNI (2024), sebelum diangkat Pangdam I/BB (2024?"2025).
Rio pernah turun langsung mengamankan konflik horizontal di Kalbar pada 1998, bertugas di Satgas Pamtas RI?"RDTL, sampai menjalankan operasi intelijen di Papua. Berbagai pengamanan VVIP di Korea Selatan, China, Singapura, Australia, Prancis, hingga Arab Saudi juga pernah masuk daftar tugasnya.
Tanda jasa pun berderet di dadanya. S.L Kesetiaan VIII Tahun, S.L Kesetiaan XVI, S.L Dwidya Sistha, sampai S.L Wira Siaga.
Tapi sebelum sertijab berlangsung, nama Rio keburu bikin geger. Pada Sabtu 29 November 2025, ia muncul dalam wawancara Kompas TV dan melempar pernyataan yang langsung bikin jagat publik mendesis. Menurut Rio, penyebab banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara bukan kerusakan hutan, tapi curah hujan tinggi yang mengguyur tanpa henti.
Dari pengecekan udara menggunakan helikopter, katanya, tak terlihat ada pembalakan liar atau hutan gundul di hulu.
BERITA TERKAIT: