Voters Diimbau Pilih Ketum PSSI yang 'Berhati' Sepakbola

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 09 April 2015, 19:34 WIB
<i>Voters</i> Diimbau Pilih Ketum PSSI yang 'Berhati' Sepakbola
rmol news logo Mantan pemain tim nasional dan juga Exco PSSI Bob Hippy meminta seluruh voters yang akan memilih ketua umum PSSI pada Kongres PSSI di Surabaya, 18-19 April mendatang, benar-benar cermat dan tidak silau dengan iming-iming uang.

Ia mewanti-wanti voters untuk tidak memilih ketua umum yang terlibat masalah hukum dan tidak mempunyai 'hati' dalam mengurus sepakbola.

"Kalau mau menjadi ketua umum PSSI, pertama harus mempunyai 'hati' sepakbola. Ia harus mencintai dan benar-benar suka dengan sepakbola. Jangan jabatan ketua umum atau petinggi di PSSI hanya dijadikan alat untuk mencari nama dan kedudukan. Pokoknya sepakbola jangan sampai diurus orang yang tidak tahu sepakbola," kata Bob Hippy saat dihubungi, Kamis (9/4)

Dari sembilan calon ketua umum PSSI yang telah lolos penyaringan, Bob Hippy menunjuk ada beberapa orang yang tidak memiliki 'hati' sepakbola. Salah satunya adalah wakil ketua umum PSSI incumbent, La Nyalla Mattalitti.

"Yang saya tahu, La Nyalla memang tidak menyukai sepakbola. Ia bisa menjadi petinggi PSSI sekarang ini, sebenarnya hanya kebetulan saja. Dia hanya cari nama dan kedudukan saja di PSSI. Apalagi sekarang dia punya kasus hukum yang tengah dihadapi. Masalah ini bisa menjadi persoalan buruk di PSSI. Jangan sampai masalah hukum kembali merusak PSSI, seperti saat era Nurdin Halid," terang Bob Hippy.

Selain La Nyalla, Bob juga mempertanyakan kembali lolosnya beberapa nama yang dinilainya justru lebih banyak memanfaatkan PSSI untuk mencari keuntungan tersendiri. Sebut saja nama Djohar Arifin Husin, ketua umum incumbent. Menurutnya, Djohar adalah kartu mati yang tidak perlu dipertahankan.

"Dia bukan tipe pemimpin yang baik. Selain itu, dia juga tidak memiliki bekal apa-apa untuk memimpin PSSI. Dia termasuk orang yang beruntung saja bisa menjadikan PSSI sebagai 'panggung'," tukas Bob.

Begitu juga dengan keberadaan nama-nama lainnya seperti M Zein, Subardi, Syarif Bastaman. Menurutnya, mereka adalah 'pemain' lama.

"Menurut saya, orang-orang seperti ini sudah tidak zamannya lagi menjadi pengurus. Bukannya akan membuat PSSI maju, tetapi mereka bisa membuat PSSI makin runyam dengan berbagai masalah pelik sampai sekarang belum terselesaikan, seperti mafia wasit, dan lain-lain," sambung Bob.

Kendati demikian, Bob mengaku hanya bisa menyarankan kepada para voters. Faktanya, segala keputusan berada di tangan anggota PSSI.

"Terserah sama pemilih. Apakau mereka mau terus begini. Yang pasti, pemimpin PSSI tidak melulu harus punya uang dan power, tetapi harus punya 'hati' dan komitmen dalam membina sepakbola," kata Boh Hippy seraya mengingatkan tantangan PSSI ke depan sangat berat.

"Jadi ketua umum PSSI harus figur yang pintar dan tahu benar bagaimana cara membina dan mengangkat prestasi sepakbola Indonesia. Tidak hanya ingin mendompleng nama saja," imbuhnya, menandaskan.[wid]

Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA