La Nyalla Sebaiknya Legowo Mundur dari Kongres PSSI

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Minggu, 29 Maret 2015, 11:30 WIB
rmol news logo Pesta demokrasi sepakbola Indonesia akan digelar pada Kongres PSSI 2015 di Surabaya, 18-19 April mendatang.

Di Kongres ini akan kembali dipilih ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif PSSI yang akan menentukan kiprah PSSI selama empat tahun mendatang. Saat ini, sudah terpilih sembilan calon ketua umum hasil tim penjaringan yaitu Achsanul Qosasi, Bernhard Limbong, Djohar Arifin Husin, La Nyalla Mattalitti, Joko Driyono, Muhamad Zein, Sarman Elhakim, Subardi, dan Syarif Bastaman.

Pemerhati sepakbola Tondo Widodo menilai, calon-calon ketua umum yang sudah diputuskan ini memang kurang greget dibandingkan pada Kongres empat tahun lalu. Saat itu, terjadi duel antara calon incumbent Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie serta pasangan Arifin Panigoro dan George Toisutta. Namun keempat calon akhirnya dilarang FIFA, akibat terjadi chaos. Saat itu, Djohar Arifin Husin akhirnya tampil menjadi 'pemenang' mewakili kubu Arifin Panigoro dan George Toisutta.

"Secara calon memang tahun ini agak datar. Selain calon incumbent pengurus sekarang seperti Djohar, La Nyalla, dan Joko Driyono, lainnya adalah para pemain lama yang sudah untuk bisa berbicara banyak di kongres mendatang," ujar Tondo Widodo.

Selain itu, di antara para calon yang tampil, Tondo juga menggarisbawahi keberadaan La Nyalla Mattalitti. Menurutnya, bila tidak ada kasus hukum yang kini tengah dihadapi Wakil Ketua Umum PSSI itu, Tondo memperkirakan langkah La Nyalla untuk menjadi ketua umum akan sulit terbendung. Apalagi saat ini, PSSI memang berada di bawah kekuasaannya, sementara Ketua Umum PSSI Djohar Arifin tidak memiliki peran strategis.

Namun, kata Tondo, keberadaan La Nyalla sebagai calon kuat ini juga sangat riskan. Pasalnya, saat ini, La Nyalla tengah menghadapi tiga kasus hukum yaitu pencemaran nama baik, korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur, dan korupsi pembangunan Rumah Sakit Universitas Airlangga. Bahkan untuk kasus dana hibah Kadin Jatim, dua anak buah La Nyalla, telah resmi menjadi tersangka.

"Ini menjadi handicap terberat La Nyalla. Seperti yang dialami Nurdin Halid beberapa tahun lalu, kasus hukum ini tidak bisa dianggap remeh. Apalagi dalam statuta FIFA maupun PSSI, telah jelas disebutkan bahwa ketua umum PSSI tidak boleh tersangkut kasus hukum. Intinya jangan mengulangi kejadian empat tahun lalu, bila tidak ingin sepakbola Indonesia kembali hancur dan dibelenggu dualisme. Apalagi masalah hukum menjadi hal paling sensitif di mata FIFA," tutur mantan Kabid Organidasi PSSI di era Agum Gumelar ini.

Fakta itulah yang membuat Tondo menyarankan agar La Nyalla lebih baik mundur dan memberi kesempatan pada calon lain untuk maju dalam Kongres mendatang. Itu penting agar peristiwa perpecahan di sepakbola Indonesia tidak terjadi lagi sehingga sepakbola Indonesia bisa melanjutkan perjalanannya menuju prestasi yang lebih baik di masa mendatang.

"Saya pikir La Nyalla harus legowo. Toh masih ada calon-calon lain yang notabene orang PSSI saat ini yang bisa ia dorong. Jelas sangat riskan bila La Nyalla tetap ngotot mau maju. Dia harus berjiwa besar demi sepakbola Indonesia di masa mendatang," tukas Tondo.[wid]
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA