"Karena FIFA dalam statutanya tidak membenarkan adanya intervensi dari luar apalagi dari pemerintah. Beberapa negara bahkan sudah di-suspend gara-gara intervensi dari pemerintah," ujar Dali di Jakarta, Senin (19/1).
Campur tangan pemerintah menurut dia, justru tidak akan memperbaiki sepakbola Indonesia. Sebaliknya akan memperburuk. Seharusnya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nachrawi bersikap lebih arif dan bijaksana dengan mempelajari dulu apa yang sebetulnya terjadi di sepakbola Indonesia.
"Kalau saya sebagai menteri memanggil dulu pengurus yang bersangkutan. Atau minta masukan dari banyak pihak terutama tokoh-tokoh yang memahami sepakbola seperti Agum Gumelar, Azwar Anas dan Sutiyoso. Bila perlu minta masukan dari FIFA. Jangan hantam kromo begini," jelasnya.
Dali yang pernah ditunjuk sebagai Chairman Brisbane Roar menyebut, sepertinya Menpora memang tidak ingin memahami kondisi sepakbola Indonesia secara menyeluruh. "Kalau ingin memahami pasti beliau panggil orang-orang yang memahami soal sepakbola, kalau sekarang kan tidak," tambahnya.
Ironisnya, orang-orang yang duduk sebagai anggota tim 9 justru banyak dari orang luar yang tidak mengetahui seluk beluk di persepakbolaan Indonesia. Padahal PSSI memiliki aturan sendiri sebagai anggota FIFA. "Kalau boleh saya bilang orang-orang yang masuk dalam tim 9 nol soal sepakbola," cetus Dali yang juga pernah menduduki jabatan penting di AFC ataupun FIFA.
Yang mengherankannyaq justru PSSI seperti kehilangan akal dengan membentuk tim Ad Hoc juga untuk menghadapi tim 9. "Ini sudah salah kaprah," ujarnya lagi.
Seorang menteri olahraga harusnya lebih memikirkan untuk membangun infrastruktur olahraga ketimbang mengobok-obok PSSI. Dalil mengingatkan, banyak cabang olahraga yang kurang memiliki tempat latihan. Begitu pula dengan sepakbola, masih minimnya stadion yang memadai. "Ini yang seharusnya dipikirkan," tegasnya.
Dikatakan, Menpora seharusnya mencontoh apa yang pernah dilakukan Australia. Australia pernah terpuruk olahraganya di Olimpiade tapi setelah mereka mendirikan semacam institut yang merekrut anak-anak yang berbakat di bidang olahraga dan ditampung dididik secara ilmiah. Akhirnya lima tahun setelah itu mereka bisa berbicara di Olimpiade. "Jangan mengorek-ngorek cabang olahraga yang justru akan merusak cabor itu. Saya yakin jika Menpora bekerja sesuai dengan jalurnya olahraga kita akan maju," pungkasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: