Demikian disampaikan Sekjen IOA, Lukman Niode, di Hari Ulang Tahun IOA yang ketiga di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta (Selasa, 3/12).
"Kami akan masuk ke unsur-unsur non-teknis seperti memberi motivasi atlet sebelum bertanding. Kami bisa menjadi motivator untuk atlet yang akan berlaga karena kami tahu betul medan perang. Bukan menggunakan motivator lain yang tidak tahu lapangan," kata Lukman.
Selain menjadi motivator, IOA akan membantu atlet yang kesulitan menjalani pendidikan di tingkat SMP hingga SMA. Kadang-kadang pihak sekolah mengancam, ingin jadi atlet apa murid yang baik. Padahal atlet juga berhak mendapat pendidikan yang sama dengan siswa lain.
"Masalah seperti ini yang akan kami tangani," ungkapnya.
Selain itu, pihaknya akan memberikan
soft skill terhadap atlet agar jika sudah pensiun tak bingung mencari pekerjaan. Pasalnya, sebagian besar atlet Indonesia tak memiliki kemampuan selain olahraga yang ditekuninya tersebut.
Kini, organisasi yang dipimpin mantan altet petenis meja Anton Suseno ini sudah memiliki 254 anggota, yang terdiri dari mantan atlet yang tampil sejak Olimpiade 1952 hingga 2012. Selain Anton Suseno, para olimpian yang tergabung dalam IOA antara lain Lukman Niode (renang), Kresna Bayu (judo), Purnomo M Yudhi, Emma Tahapary (atletik), Yayuk Basuki (tenis), Richard Sambera (renang), Ricky Subagja, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufiq Hidayat (bulutangkis), Hadi Wihardja (angkat besi) dan La Paene Masara (tinju).
Dalam kesempatan ini, Anton Suseno menambahkan, organisasi yang dipimpinnya juga berhasrat menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Kongres Olimpiade yang diikuti mantan-mantan atlet dunia. Keinginan itu sudah disampaikan kepada asosiasi di atasnya, yakni tingkat Asia dan Oceania.
"Kita disuruh siap-siap menjadi penyelenggara Kongres Olimpiade dan kami pastikan sudah siap," ujar Anton.
[ysa]
BERITA TERKAIT: