Denda itu dijatuhkan pada seÂjumlah suporter AS Roma melaÂkukan tindak rasialisme terhadap pemain AC Milan di dalam perÂtandingan kedua tim 12 Mei lalu. Blatter memberi indikasi bahwa tindak rasialisme mestinya menÂdapatkan hukuman lebih berat.
Menurutnya hukuman denda tidak pantas untuk tindakan peleÂcehan ras. Selain itu dia menuturÂkan, lahirnya hukuman denda terÂsebut terlalu cepat dan mendaÂdak tanpa dilakukan suatu penyelidiÂkan terlebih dahulu oleh FIGC.
“Tidaklah mengejutkan bahwa komite disiplin Italia sudah memÂberi keputusan 24 jam seteÂlah kejadian, dan bahkan tanpa menyelidiki. Cuma memberikan denda tidaklah dapat diterima. Saya akan memanggil Federasi Sepakbola Italia,†tegas Blatter di Football Italia.
Sekadar catatan di San Siro, SeÂnin (13/5) dini hari kemarin WIB, terdengar nyanyian berbau rasis dari sekelompok suporter Roma, yang ditujukan kepada MaÂrio Balotelli dan Kevin-PrinÂce Boateng. Alhasil, Srigala RoÂma pun dijatuhi hukuman denda.
Insiden itu sempat membuat wasit menghentikan laga selama beberapa menit. Francesco Totti kemudian mengimbau penduÂkung Roma yang ada di San Siro untuk menghentikan aksinya itu. Akibat insiden itu, Roma dikenai denda oleh otoritas Liga Italia.
Giallorossi harus membayar denÂda sebesar 50.000 euro atau seÂkitar 631 juta rupiah. Terkait pelecehan rasial yang dilakukan oleh suporternya itu, Roma keÂmuÂdian mengeluarkan pernyataÂan lewat situs resminya. AS RoÂma mengutuk dan menentang seÂgala bentuk diskriminasi terÂmaÂsuk pelecehan berbau rasial.
“AS Roma mengutuk segala bentuk pelecehan rasial. Perilaku ini dari pendukung sepakbola manapun, termasuk kami, benar-benar tidak bisa diterima,†tulis perÂnyataan di situs resmi Roma. KaÂmi berkomitmen untuk mengÂhadapi isu ini secara langsung untuk membersihkan olahraga dari masalah ini dan meningkatÂkan respek untuk semua,†bunyi pernyataan itu. [Harian Rakyat Merdeka]