Kejadian 27 Maret lalu berÂlangsung begitu cepat dan luput dari pengamatan wasit Nestor Pitana. Maraknya pemberitaan memÂbuat FIFA untuk memulai investigasi pada kasus ini.
Kontroversi Suarez tersebut mendapatkan pembelaan dari neÂgaÂranya sendiri. AUF, Federasi SeÂpakbola Uruguay, menyatakan bahwa pemain yang merumput di Inggris bersama klub LiverÂpool itu cuma bereaksi karena adaÂnya tindakan kasar, kemaÂluanÂnya diremas terlebih dulu dari pemain lawan. Menyebut SuaÂrez sebagai pihak teraniaya, AUF pun akan berusaha makÂsimal membelanya.
“Kami akan membelanya sekuat tenaga. Kami sedang meÂnelaah seluruh video dan gamÂbar-gambar yang memperÂliÂhatkan Suarez bereaksi setelah adaÂnya agresi dari Jara,†tegas PreÂsiden AUF Sebastian Bauza di situs CONMEBOL kemarin.
Sementara itu, Declan Hill, meÂlalui bukunya,
The Fix: Soccer and Organized Crime mengÂungkapkan,
Match-fixing atau pengaturan pertandingan adalah sesuatu yang ada, sesuatu yang benar keberadaannya di daÂlam sepakbola. Seperti halnya penyakit,
match-fixing pun berubah menjadi sesuatu yang mewabah.
Pria berkebangsaan Kanada itu menegaskan, pengaturan perÂtanÂdingan adalah sesuatu yang mewabah dan berbahaya. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah bagaimana wabah terÂseÂbut bisa membuat penggemar seÂpakbola jadi malas menyaksikan pertandingan.
Sekadar catatan, Kasus pengÂaturan pertandingan sendiri muÂlai mencuat ke permukaan seÂkitar Februari silam. Interpol meÂngeluarkan nama Dan Tan, seÂorang berkebangsaan SingaÂpura, sebagai tersangka pengaÂturan pertandingan sepakbola secara gloÂbal. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: