Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Masih Etiskah Sepakbola kita Diserahkan ke Nurdin?

(Suara Rakyat Yang Tidak Memiliki Hak Suara Memilih Ketua Umum PSSI)­

Minggu, 20 Februari 2011, 06:42 WIB
Masih Etiskah Sepakbola kita Diserahkan ke Nurdin?
persatuan sepakbola seluruh indonesia (pssi)
RMOL. Pekan lalu, juru bicara Komite Pe­milihan atau tim verifikasi Ke­tua Umum PSSI Gusti Randa men­janjikan bakal ada kejutan dari hasil kerja timnya.

Benar. Kemarin sore, kejutan itu terbukti. Dua bakal calon ke­tua umum PSSI, Jenderal George Toisutta dan pengusaha Arifin Pa­ni­goro gagal lolos tim veri­fi­ka­si untuk menjadi ketua umum PSSI. Yang menarik, Nurdin Ha­lid, yang dihujat banyak pihak dan dinilai gagal melahirkan pres­tasi, lolos. Ketua umum PSSI selama dua periode itu me­leng­gang bersama pengusaha Nirwan Bakrie menuju Kongres PSSI di Bali 26 Maret men­datang.

Apakah ini mengejutkan? Ba­gi sebagian orang mungkin ya. Tapi sebagian menilainya biasa sa­ja. Apalagi, beberapa hari se­belumnya, selain janji bakal ada yang mengejutkan tadi, tim fe­rivikasi sudah memagari terlebih da­hulu bahwa mereka bekerja independen.

Nurdin dan beberapa pengurus PSSI, pekan lalu, di Bangkok, Thailand juga sudah bertemu dan me­laporkan kepada Presiden Fe­derasi Sepakbola Asia (AFC) Mo­hammed Bin Hammam me­nge­nai rencana Kongres. Saat itu, PSSI juga memenuhi ke­ingi­nan Presiden AFC untuk me­min­da­h­kan lokasi Kongres dari Pu­lau Bintan, Kepulauan Riau ke Bali. PSSI juga mengatakan, AFC dan Mohammed Bin Ham­mam mendukung langkah PSSI.

Langkah ini, bisa dinilai bahwa AFC mendukung PSSI. Ka­lau pun ada masalah, mi­sal­nya protes dari kubu Toisutta mau­pun Arifin Panigoro, toh AFC sudah mendukung. Mau apa lagi.

Di tataran ini, PSSI dan Nur­din sah-sah saja. Lobi-lobi ke AFC dan FIFA juga tak di­sa­lah­kan. Tapi, apakah Nurdin tak mau mendengarkan suara-sua­ra rak­yat yang meng­ingin­kannya mundur demi se­pak­bola nasio­nal. Apakah belum cu­kup dua periode yang sudah dijalaninya se­lama ini. Apakah Nurdin me­rasa sudah mem­be­rikan prestasi ter­hadap sepakbola nasional?

Sepakbola nasional ke depan bu­tuh figur yang tak me­nang­gung beban masa lalu. Juga tak direcoki oleh tuntutan mundur yang terus bergema. Sepakbola na­sional tidak hanya butuh figur yang mengerti sepakbola, tapi juga ketulusan dan kecintaan ter­hadap tanah air.

Kita sudah bosan mendengar ke­curigaan dan dugaan-dugaan; skor atau hasil pertandingan su­dah diatur, beberapa pengurus di daerah menyetor sejumlah dana ke pengurus PSSI, wasit yang bisa dibeli dan tidak trans­pa­ran­nya manajemen dan keuangan PSSI. Kita juga sudah bosan me­lihat pertandingan sepakbola yang tiba-tiba berubah menjadi per­tandingan tinju.  Kita sudah je­nuh mendengar kecurigaan dan citra negatif itu.

Kita juga malu, ketika me­nyak­sikan pertandingan inter­na­sio­nal Timnas Indonesia di Se­na­yan, suara-suara dan spanduk yang meminta Nurdin mundur bergema di seantero stadion. Pa­ra pemain mendengar, bahkan Presiden SBY pun tahu. Inikah wa­jah sepakbola kita, wajah yang tercoreng oleh pertikaian dan pertarungan kepentingan, mi­nus prestasi?

Beberapa tahun ini sepakbola In­donesia telah melalui masa-masa konflik berkepanjangan. Cukup. Cukup sudah. Kita meng­inginkan pertandingan ber­mutu dan prestasi mem­bang­ga­kan di lapangan hijau, bukan per­tandingan di luar lapangan, tinju dan adu jotos, atau kasus hukum di meja hijau.

Ketika Nurdin dipenjara, de­sa­kan agar dia mundur terus ber­gema. Tapi Nurdin berdalih ma­sih bisa menjalankan tugas se­ba­gai ketua umum PSSI dari balik je­ru­ji besi. Mungkin dia bisa, ta­pi apakah itu etis?

Itu kejadian beberapa tahun la­lu. Sekarang, ketika suara-suara yang meminta Nurdin mundur, masih etiskah nasib sepakbola na­sional diserahkan kepada Nur­din? Kita yakin Nurdin sangat mencintai sepakbola dan telah melakukan beberapa upaya dan pro­ses untuk sepakbola na­sional. Dia juga politisi andal. Tapi ma­sih etiskah dan pan­tas­kah olah­raga pa­ling digemari ini dise­rah­kan ke Nurdin?

Nurdin pasti punya alasan. Rak­yat pun punya hak. Tapi, rak­yat hanya berhak mendambakan prestasi sepakbola, tak punya hak memilih ketua umum. Ka­re­na, yang punya hak hanya se­kitar seratusan orang. Kepada orang-orang itulah nasib se­pak­bola Indonesia dipertaruhkan. Re­lakah kita? Terkadang, pres­tasi ditentukan oleh rela dan tidak rela.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA