Enam buku tersebut meliputi antologi puisi berjudul "Anjing-Anjing Sjahrir", novel "Rembulan Terbakar, novel "Melampaui Senyap", novel Perempuan Merah", antologi cerpen berjudul "Negara Merobek Selimut Ibuku", serta kumpulan esai berjudul "Refleksi Aktivis Dalam Secangkir Kopi".
Sejumlah tokoh tampak hadir dalam acara yang dibalut dalam tema "Persahabatan Demokrasi Tanpa Henti" tersebut.
Mereka yang hadir antara lain aktivis Malari Hariman Siregar, Bupati Lahat Bursah Zarnubi, hingga Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Iwan Sumule.
Pembukaan peluncuran buku Isti Nugroho dilakukan oleh Hariman Siregar, yang mengenang kebersamaan dengan Isti Nugroho mendirikan Indemo, sebuah lembaga kajian dengan kepanjangan Indonesia Democracy Monitor, pasca tumbangnya rezim Presiden ke-2 RI Soeharto.
"Setelah perubahan (Reformasi), Soeharto jatuh '98, Isti itu bersama-sama kami semua rame-rame kita bikin Indemo itu," kata Hariman.
Lebih lanjut, Hariman memandang Isti sebagai sosok yang sampai hari ini masih dengan sikap yang sama, berada di luar lingkaran kekuasaan untuk terus memberikan kritik membangun lewat karya sastranya.
"Isti ini konsisten. Konsisten jadi aktivis gitu lho," tambah Hariman berkelakar disambut gelak tawa hadirin.
Sementara itu, Bursah turut menyampaikan kesannya terhadap Isti Nugroho yang dia kenal selama kurang lebih 30 tahun.
"Jadi saya lihat Isti ini salah satu orang yang konsisten memperjuangkan gagasan cita-cita demokrasi dengan kesederhanaan ya, dengan apa adanya," kata Bursah.
BERITA TERKAIT: