Menurutnya, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pembangunan mampu melahirkan generasi Orang Asli Papua (OAP) yang berpendidikan, berdaya saing, dan menjadi aktor utama pembangunan di tanahnya sendiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Irwan dalam Konsultasi Publik bertajuk "Perumusan Model Pendidikan Nonformal Berbasis Komunitas, Pendampingan Belajar, dan Pengasuhan yang Berakar pada Budaya Lokal dalam Menjaring Aspirasi, Menyelaraskan Aksi, Mewujudkan Generasi Papua Unggul" yang diselenggarakan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Aula Anim Ha, Merauke, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurut Irwan, kehadiran PSN, termasuk di kawasan Wanam, akan membawa perubahan sosial dan ekonomi yang sangat besar. Oleh sebab itu, negara harus memastikan perubahan tersebut menjadi kesempatan bagi anak-anak OAP Papua untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan.
"Jangan sampai pembangunan berjalan cepat, tetapi masyarakat asli hanya menjadi penonton. Keberhasilan PSN harus diukur dari seberapa banyak anak-anak Papua yang nantinya menjadi sarjana, tenaga profesional, wirausahawan, dan pemimpin yang mengelola pembangunan di daerahnya sendiri," kata Irwan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia menilai pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan apakah masyarakat adat akan mampu beradaptasi dengan perubahan atau justru semakin tertinggal. Karena itu, pembangunan ekonomi harus dibarengi dengan kebijakan afirmatif di bidang pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas sekolah, beasiswa, pendidikan vokasi, hingga penguatan pendidikan nonformal berbasis komunitas.
"Ketika investasi masuk ke Papua, investasi terhadap manusia Papua juga harus ditingkatkan. Pendidikan adalah modal utama agar Orang Asli Papua memiliki kemampuan bersaing sekaligus memperoleh manfaat langsung dari pembangunan yang berlangsung di wilayahnya," ujarnya.
Irwan juga mengingatkan bahwa kesejahteraan keluarga memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberhasilan pendidikan anak. Menurutnya, orang tua yang memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak akan lebih mampu memastikan anak-anaknya tetap bersekolah dan memperoleh pendidikan yang berkualitas.
"Karena itu, PSN harus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. Ketika kesejahteraan keluarga meningkat, kualitas pendidikan anak juga akan meningkat. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan," tegasnya.
Selain itu, Irwan berharap transformasi pembangunan tidak menghilangkan identitas budaya masyarakat Papua. Ia menilai pendidikan harus tetap berakar pada nilai-nilai lokal agar generasi muda mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Orang Asli Papua.
"Modernisasi harus memperkuat, bukan menghapus identitas budaya. Kita membutuhkan generasi Papua yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap memahami adat, menghormati budaya, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakatnya," jelas dia.
Irwan menegaskan bahwa PSN akan memperoleh dukungan yang lebih kuat apabila masyarakat merasakan manfaatnya secara nyata, terutama melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan keluarga, dan terbukanya kesempatan yang lebih luas bagi Orang Asli Papua untuk menjadi pelaku utama pembangunan.
"Tujuan akhir pembangunan bukan sekadar membangun kawasan, melainkan membangun manusianya. Ketika anak-anak Papua tumbuh menjadi generasi yang cerdas, sejahtera, dan mampu memimpin pembangunan di tanahnya sendiri, saat itulah PSN benar-benar berhasil mewujudkan keadilan pembangunan bagi Papua," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: