Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris mengatakan, kebijakan tarif tidak cukup hanya dilihat dari kebutuhan operasional dan kondisi fiskal, tetapi juga harus menempatkan kemampuan serta kebutuhan pengguna transportasi publik sebagai subjek penting kajian.
Fahira menilai usulan tarif Rp5.000 untuk layanan Transjakarta di dalam Jakarta dan Rp10.000 untuk Transjabodetabek yang disampaikan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), termasuk opsi tiket terintegrasi dan paket langganan, perlu dikaji secara objektif.
Setiap pilihan kebijakan harus dihitung dampaknya terhadap daya beli warga, kualitas layanan, keberlanjutan subsidi, serta tujuan mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
“Transportasi publik adalah urat nadi kehidupan Jakarta. Karena itu, setiap kebijakan tarif harus diputuskan dengan sangat hati-hati," kata Fahira dalam keterangannya, Kamis 9 Juli 2026.
Menurut Fahira, kemampuan warga membayar, pola perjalanan pengguna, kualitas layanan, subsidi, dan dampaknya terhadap penggunaan transportasi umum harus dibaca sebagai satu kesatuan.
"Saya pribadi berharap dalam situasi ekonomi saat ini, tarif Transjakarta tetap dipertahankan dulu sebesar Rp3.500,” kata Fahira.
Menurut Senator Jakarta ini, terdapat lima hal penting yang perlu menjadi perhatian sebelum keputusan tarif baru diambil.
Pertama, kemampuan membayar warga dan beban riil biaya transportasi. Kedua, peningkatan kualitas layanan harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari kebijakan tarif.
Ketiga, desain tarif harus inklusif dan menyesuaikan pola perjalanan warga. Keempat, transparansi subsidi dan tujuan kebijakan.
"Kelima, memastikan partisipasi publik yang bermakna," pungkas Fahira.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: