UM-PTKIN 2026 Diikuti Peserta Difabel, Non-Muslim hingga Mahasiswa Asing

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 08 Juni 2026, 14:45 WIB
UM-PTKIN 2026 Diikuti Peserta Difabel, Non-Muslim hingga Mahasiswa Asing
Pelaksanaan UM-PTKIN (Foto: Kemenag)
rmol news logo Pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026 tidak hanya mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap kampus Islam negeri, tetapi juga menunjukkan semakin kuatnya karakter inklusif PTKIN di Indonesia.

Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Abd. Aziz, mengungkapkan bahwa tahun ini UM-PTKIN diikuti oleh 43 peserta penyandang disabilitas yang berasal dari berbagai kategori.

Mereka terdiri atas 11 peserta tuna netra, delapan tuna rungu, tujuh tuna daksa, dan 17 tuna grahita. Panitia memastikan seluruh lokasi ujian telah menyediakan fasilitas yang ramah dan aksesibel bagi para peserta difabel.

"Kami memastikan seluruh titik lokasi ujian memberikan fasilitas terbaik dan akses yang ramah bagi mereka," kata Abd. Aziz, dikutip di Jakarta, Senin 8 Juni 2026.

Selain peserta difabel, UM-PTKIN 2026 juga diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang agama. Tercatat sebanyak 20 peserta non-Muslim mengikuti seleksi tahun ini, terdiri dari 17 pendaftar beragama Kristen, dua Katolik, dan satu penganut aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa PTKIN semakin diterima sebagai institusi pendidikan tinggi yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Amin Suyitno, menegaskan bahwa program studi di PTKIN bersifat inklusif dan terbuka bagi siapa saja.

"Ini membuktikan bahwa keberadaan program studi di PTKIN sangat inklusif bagi siapa pun dan terbuka ramah untuk beragam latar belakang kepercayaan," ujarnya.

Tidak hanya menarik minat peserta dalam negeri, UM-PTKIN tahun ini juga diikuti mahasiswa asing. Salah satunya berasal dari Papua Nugini yang mendaftar untuk melanjutkan studi di Indonesia melalui jalur seleksi tersebut.

Kehadiran peserta internasional menjadi sinyal bahwa PTKIN tidak hanya berkembang sebagai pusat pendidikan Islam nasional, tetapi juga mulai menarik perhatian masyarakat global.

Dengan semakin beragamnya peserta yang mengikuti seleksi setiap tahun, PTKIN dinilai tengah bertransformasi menjadi ruang belajar yang inklusif, setara, dan berdaya saing internasional. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA