Upacara berlangsung khidmat di Pura Agung Giri Nata, Jalan Sumbing, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.
Tawur Agung Kesanga merupakan tradisi sakral umat Hindu yang bertujuan menyucikan alam semesta sebelum menjalankan Catur Brata Penyepian pada Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026 besok.
Ritual tersebut menjadi tahapan lanjutan setelah pelaksanaan upacara Melasti yang sebelumnya digelar di Pantai Marina.
Ketua Panitia Perayaan Nyepi Kota Semarang, I Dewa Made Artayasa, mengatakan Tawur Agung memiliki makna penting dalam rangkaian perayaan Nyepi.
Menurutnya, ritual ini berkaitan dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni tiga sumber kebahagiaan yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Tawur Agung merupakan bagian penting dalam rangkaian Nyepi. Ritual ini mengandung makna Tri Hita Karana, yaitu menjaga harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam,” ujarnya dikutip dari
Kantor Berita RMOLJateng.
Pada perayaan Nyepi tahun ini, umat Hindu mengusung tema
Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti satu dunia satu keluarga. Tema tersebut mengajak masyarakat memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan. Rangkaian ritual ini menjadi pengantar menuju puncak Hari Raya Nyepi yang dimulai tengah malam.
Selama 24 jam, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian sebagai bentuk introspeksi diri, yakni tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan.
Selama pelaksanaan Nyepi, umat Hindu juga mengisi waktu dengan doa dan melantunkan Mantram Gayatri sebagai bagian dari proses penyucian diri lahir dan batin.
BERITA TERKAIT: