Panduan Memilih Takjil: Lebih Sehat Kolak Pisang atau Kolak Biji Salak?

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ananda-gabriel-5'>ANANDA GABRIEL</a>
OLEH: ANANDA GABRIEL
  • Rabu, 04 Februari 2026, 08:39 WIB
Panduan Memilih Takjil: Lebih Sehat Kolak Pisang atau Kolak Biji Salak?
Ilustrasi menu kolak pisang.

rmol news logo Aroma manis gula merah dan gurihnya santan yang menguar di udara adalah pertanda tak terbantahkan bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Di Indonesia, kolak bukan sekadar makanan; ia adalah simbol kehangatan tradisi Ramadan yang dinanti jutaan orang.

Di antara hamparan pilihan takjil di meja makan, selalu ada dua kubu besar yang mendominasi perdebatan selera: tim kolak pisang yang setia pada cita rasa klasik, dan tim kolak biji salak yang memuja sensasi tekstur kenyal.


Meskipun sekilas terlihat serupa dengan kuah cokelat keemasan, kedua primadona ini sejatinya menawarkan pengalaman kuliner yang bertolak belakang.


Memahami perbedaan karakter keduanya tidak hanya akan membantu Anda memilih takjil yang pas sesuai suasana hati, tetapi juga mengajak kita menyelami kekayaan dapur nusantara lebih dalam. Mari kita bedah tuntas "rivalitas" manis ini.


Pesona Klasik Sang Kolak Pisang


Kolak pisang adalah definisi dari kenyamanan. Sajian ini mengandalkan kekuatan bahan alami berupa pisang matang yang direbus dalam harmoni kuah santan, gula aren, dan simpul daun pandan wangi.


Kunci kenikmatannya terletak pada pemilihan jenis pisang. Para ahli dapur biasanya menghindari pisang meja biasa dan beralih pada varietas khusus seperti pisang kepok atau pisang tanduk.


Pisang kepok dipilih karena menyumbang sedikit rasa asam alami yang menyeimbangkan legitnya gula, sementara pisang tanduk memberikan tekstur yang kokoh namun tetap lembut saat digigit.


Bagi banyak orang, kolak pisang adalah pilihan paling "aman" dan ramah di perut karena teksturnya yang lembut (creamy) dan mudah lumat di mulut tanpa perlu usaha mengunyah berlebih.


Sensasi Kenyal Kolak Biji Salak


Bergeser ke sisi lain, kita bertemu dengan kolak biji salak. Jangan tertipu oleh namanya, karena hidangan ini sama sekali tidak menggunakan biji buah salak yang keras itu.


Nama ini lahir dari kreativitas masyarakat kita yang melihat bentuk adonan bulat menyerupai biji salak.


Penting untuk meluruskan satu kesalahpahaman umum: biji salak berbeda dengan candil. Meskipun sering dianggap sama, candil umumnya terbuat dari tepung ketan, sementara biji salak yang otentik wajib menggunakan ubi jalar -- bisa ubi kuning, oranye, atau ungu -- yang dihaluskan bersama tepung tapioka.


Perbedaan bahan dasar ini membuat tekstur biji salak terasa lebih lembut namun padat, berbeda dengan candil tepung ketan yang cenderung sangat kenyal dan elastis.


Berbeda dengan kolak pisang yang kuahnya cenderung lebih encer, kuah kolak biji salak biasanya lebih kental dan pekat karena pengaruh pati dari adonan ubi serta tambahan larutan pengental seperti sagu.


Ini adalah takjil bagi mereka yang mencari pengalaman makan yang lebih intens dan mengenyangkan.


Pertarungan Tekstur dan Rasa


Perbedaan paling mencolok saat menikmati keduanya ada pada sensasi di mulut. Menikmati kolak pisang adalah tentang kelembutan.


Potongan pisang yang telah menyerap kuah santan akan terasa lumer di lidah, memberikan rasa manis yang kompleks perpaduan antara fruktosa buah dan karamel gula jawa.


Ini sangat cocok bagi Anda yang merasa lemas setelah seharian berpuasa dan butuh asupan yang tidak memberatkan kerja rahang.


Sebaliknya, kolak biji salak menawarkan "perlawanan" yang menyenangkan. Sensasi menggigit bola-bola ubi memberikan kepuasan tersendiri.


Rasa manisnya pun terasa lebih 'berat' dan legit karena kuahnya yang kental menempel sempurna pada setiap butir biji salak. Jika kolak pisang terasa ringan dan segar, kolak biji salak terasa lebih substansial, menyerupai sensasi memakan bubur sumsum.


Menimbang Gizi: Mana yang Lebih Sehat?


Berbuka puasa memang disarankan dengan yang manis untuk mengembalikan kadar gula darah, namun profil nutrisi kedua kolak ini memiliki keunggulan masing-masing.


Secara gizi makro, kolak pisang unggul dalam kandungan kalium dan serat alami, terutama jika pisang yang digunakan tidak terlalu lembek.


Kandungan ini sangat baik untuk memulihkan elektrolit tubuh yang hilang dan menjaga pencernaan tetap lancar.


Di sisi lain, kolak biji salak adalah pembangkit energi yang masif. Kombinasi karbohidrat kompleks dari ubi jalar dan tepung tapioka memberikan rasa kenyang yang lebih tahan lama dibandingkan pisang.


Jika menggunakan ubi jalar berwarna oranye atau ungu, Anda juga mendapatkan bonus asupan vitamin a dan antioksidan. Namun, perlu diingat bahwa kedua hidangan ini sama-sama tinggi gula dan lemak jenuh dari santan.


Ahli gizi menyarankan untuk menikmatinya dalam porsi moderat -- cukup satu mangkuk kecil sebagai pembatal puasa, bukan sebagai pengganti makan besar.


Pada akhirnya, perdebatan antara kolak pisang dan kolak biji salak bukanlah tentang mana yang lebih superior, melainkan tentang apa yang tubuh dan lidah Anda butuhkan saat bedug magrib bergema.


Jika Anda menginginkan takjil yang lembut, ringan, dan menenangkan perut, kolak pisang adalah sahabat terbaik Anda. Namun, jika Anda sedang sangat lapar dan menginginkan tekstur kenyal yang memuaskan serta rasa manis yang 'nendang', kolak biji salak adalah jawabannya.


Apa pun pilihan Anda, keduanya adalah bukti manisnya warisan kuliner Indonesia yang patut kita lestarikan. Selamat berbukarmol news logo article


EDITOR: REDAKTUR 01

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA