Kabar tersebut muncul usai Wakil Gubernur DKI Jakarta A Riza Patria mengatakan bahwa Gubernur Anies meminta pemerintah pusat mengambil alih koordinasi penanganan Covid-19. Namun, pernyataan A Riza Patria disalahartikan.
DKI tidak pernah menyerah, menurut Anies, adapun maksud pernyataan itu lantaran perlunya dukungan bantuan bagi daerah-daerah selain Jakarta oleh pemerintah pusat, karena yang mampu untuk mengkoordinasikan ialah pemeritah pusat bukan daerah.
"Jakarta bukan angkat tangan bukan. Jakarta ingin daerah (luar Jakarta) meninkatkan sarana. Dan pemerintah pusat membantu menyiapkan fasilitas kesehatan di daerah penyangga Jakarta," kata Anies saat menjadi pembicara HUT Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ke-1, secara daring, Senin (8/1).
Hingga saat ini, sambung Anies, pihaknya sangat serius dalam menangani pandemi Covid-19 dan menyelamatkan warga dari bahaya virus asal Wuhan, Tingkok itu.
Untuk itu, kata Anies, Pemprov DKI Jakarta telah mengkonfersi 63 persen RS di DKI Jakarta untuk fokus dalam menangani Covid-19.
Anies membeberkan, pihaknya tidak hanya menambah kapasitas tempat tidur, tetapi juga menata manajemen RS sehingga dapat menangani Covid-19. Misalnya, menyiapkan laundry khusus.
"Kita juga menambah 1.500 tenaga kesehatan (nakes)," kata Anies yang hadir secara virtual.
Besaran konversi yang dilakukan ini melebihi aturan Menteri Kesehatan yang mensyaratkan minimal 40 persen kapasitas RS rujukan dikonversi untuk menangani Covid-19.
Selain itu, sambung Anies, saat ini ada 106 rumah sakit di Jakarta yang telah menjadi rujukan Covid-19.
"Komitmen kita untuk selamatkan warga dari Covid-19 itu serius. Benteng-benteng terakhir (RS) kita siapkan," pungkas Anies.
BERITA TERKAIT: