Demi Menjaga Tradisi, Ritual Keduk Beji Tetap Dilangsungkan Di Tengah Pandemi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/agus-dwi-1'>AGUS DWI</a>
LAPORAN: AGUS DWI
  • Selasa, 15 Desember 2020, 16:27 WIB
Demi Menjaga Tradisi, Ritual Keduk Beji Tetap Dilangsungkan Di Tengah Pandemi
Supomo juru kunci Tawun melakukan ritual pada Kesuksesan Beji/RMOLJatim
rmol news logo Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia tak menghentikan ritual tahunan Keduk Beji di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual Keduk Beji tetap dilaksanakan setiap masa panen raya selesai. Bedanya, karena kali ini masih dalam kondisi pandemi Covid-19, ritual ini digelar nyaris tanpa kehadiran penonton.

"Gelaran Keduk Beji cukup dikemas sederhana karena situasinya tidak memungkinkan di tengah pandemi Covid-19. Saat ini seperti yang terlihat tidak ada hiburan atau keramaian. Meski sederhana kita tetap menerapkan protokol kesehatan," terang Kepala Dispora Ngawi, Rudi Sulisdiana, dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Selasa, (15/12).

Ritual Keduk Beji merupakan trasidi yang telah diwariskan secara turun temurun. Namun untuk penonton yang hadir di acara tersebut sangat dibatasi, hanya warga desa setempat.

Jelas Rudi, ritual ini tetap dilakukan sebagai upaya menjaga potensi budaya lokal yang dirasakan makin tergerus budaya global.

Sementara itu, Camat Kasreman, Peggy Yudo menyebutkan, tradisi Keduk Beji selalu digelar pada hari Selasa Kliwon atau yang biasa digelar setiap masa panen raya selesai.

Ritual itu digelar sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo atas sumber penghidupan Keduk Beji.

Prosesi upacara adat ini diawali warga Desa Tawun dengan berkumpul di sumber mata air berukuran 20x30 meter. Ritual dimulai dengan melakukan pengerukan atau pembersihan kotoran dengan mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori sumber mata air Beji yang berada di Desa Tawun.

"Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran," ungkap Peggy.

Supomo selaku sesepuh Desa Tawun sekaligus jurusilep atau juruselam yang sudah dikenal ini mengatakan, upacara Keduk Beji ini, merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun.

Lebih lanjut, inti dari ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi yang berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut ada di dalam gua di dalam sumber Beji sendiri.

Ritual ini berawal dari (legenda) warisan Eyang Ludro Joyo yang dulu pernah bertapa di Sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup.

Setelah lama bertapa, tepat di hari Selasa Kliwon, jasad Eyang Ludro Joyo dipercaya menghilang dan timbulah air sumber ini. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA