Temuan itu dipertanyakan oleh salah seorang warga yang masih aktif sebagai peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Mukhlis Ahadi.
Ia menyatakan, temuan barang terkontaminasi radiasi nuklir oleh Bapeten di 5 titik daerah terpapar adalah suatu hal yang aneh.
Sebab, Mukhlis Ahadi mengetahui kalau barang bekas atau limbah yang terkait dengan radiasi nuklir tidak bisa dibawa keluar pusat limbah radio aktif Batan.
"Sumber Batan tak boleh dibuang sembarangan, harus dibuang ke Batan," kata Mukhlis Ahadi saat ditemui di balai pertemuan warga Komplek Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (15/2).
Oleh karena itu, lanjut Mukhlis, Bapeten seharusnya bisa melacak orang atau pihak yang sengaja membawa atau mengubur limbah radioaktif ke Komplek Batan Indah. Sebab jika dilihat dari jenisnya, yakni Sesium, biasanya digunakan oleh industri kimia ataupun Rumah Sakit.
"Dan Bapetan harusnya punya sumber Cessium itu. Bapeten harusnya bisa merunut sumber ini, kenapa bisa sampai kesini?," ujar Mukhlis Ahadi mempertanyakan.
Ia pun memperkirakan, seseorang yang membawa limbah radio aktif tersebut bekerja di industri kimia. Karena, terdapat mekanisme pergantian alat deteksi cairan kimia, yang mengandung radiasi nuklir.
"Nah, kalau saya mau buat perkiraan, sumber gauging (alat deteksi yang mengandung nuklir) dilengkapi oleh Shielding penahan radiasi. Itu disimpan di tempat aman. Nah ketika sumber sudah sangat rendah, sudah enggak bisa dipakai, tapi sisanya (radiasinya) masih ada, itu harus diganti yang baru," jelas Mukhlis Ahadi.
"Nah rumah dari sumber ini kan berharga, bisa puluhan kilo timbalnya itu. Kemungkinan ya, orang itu mau ambil timbal, isinya dibuang. Kemungkinanya begitu," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: