Kapolda Maluku Utara, Brigjen Suroto menjelaskan, kejadian anggota ‘ngamuk’ tersebut disebabkan mis-komunikasi saja.
“Mis komunikasi saja. Bukan pemotongan,†kata Suroto saat dikonfirmasi wartawan, Senin (29/4).
Lebih lanjut, jelas dia, pengamanan proses rekapitulasi suara sampai penghitungan dari tingkat TPS ke PPK molor waktunya dari yang ditetapkan. Padahal besaran DIPA Anggaran Polri hanya untuk enam hari.
“DIPA anggaran yang diberikan kan cuma enam hari. Mereka menuntut kekurangan itu, karena capek mereka spontan seperti itu. Sudah kita selesaikan, situasi kondusif,†tambahnya.
Dalam sebuah video yang viral memperlihatkan anggota Polri berpakaian preman melakukan protes usai apel pagi ini, Senin (29/4) di Polres Halmahera. Anggota itu protes langsung kepada Kapolres lantaran uang pengaman pemilu yang dari setiap tahapan pelaksanaan selalu dilakukan pemotongan.
Kemarahan terjadi saat Kapolres Halmahera Selatan AKBP Agung Setyo Wahyudi mengancam bakal memutasikan anggota yang protes tersebut.