Presiden Direktur Palyja, Robert Reri Massie mengatakan, saat ini sebanyak 94 persen air baku yang diproduksi justru berasal dari luar Jakarta.
"Di dalam kota hanya ada dua sumber, tapi boleh dibilang ini kecil sekali. Ini cerminan masalah air di Jakarta Barat khususnya dan di Jakarta umumnya," ucapnya dalam sebuah workshop di DI Yogyakarta, Jumat (26/4).
Kedua sumber air baku tersebut berasal dari aliran air di Kali Krukut (4,1 persen) dan Cengkareng drain (1,5 persen). "Kami di Jakarta Barat mempunyai keterbatasan terhadap sumber air baku karena jumlahnya sangat terbatas sekali," ujarnya.
Hal ini, tentunya tidak sebanding dengan pembangunan dan pertumbuhan penduduk di wilayah tersebut yang terus berkembang pesat.
"Pembangunan ke barat itu sangat besar kalau kita melihat pertumbuhan penduduk di daerah Jakarta Barat. Jadi ini sebenarnya masalah di bidang penjernihan air," tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Direktur Customer Service Operations Palyja, Nancy Manurung menyebutkan, hingga kini pihaknya masih mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan di wilayah Jakarta Barat.
"Jakarta Barat masih ada kendala, Taman Surya di Cengkareng masih kami support dengan mobil tangki, ini free untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga," ucapnya.