Ratusan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) bertahan dalam tenda sederhana buatan mereka. Tenda hanya dibuat dari kain terpal panjang yang ditopang dengan sebuah bambu di tengahnya dan berfungsi sebagai atap. Alasnya, hanya tikar biasa yang tipis.
Saat hujan turun, air masuk menggenangi area dalam tenda. Sehingga alas mereka tidur menjadi basah. Tapi mereka tetap bertahan dan aksi di depan Istana seperti ini sudah mereka lakoni sejak Jumat (25/1) lalu.
Aksi ini merupakan buntut dari serangkaian aksi panjang yang dilakukan SP-AMT dalam menuntut pemenuhan hak-hak para pengemudi mobil tangki yang menjadi korban pemecatan massal oleh PT Pertamina Patra Niaga dan PT Elnusa Petrofin pada 2016 lalu.
Pada awal bulan lalu, mereka pernah menggelar aksi kubur diri di depan Istana. Aksi itu kemudian dihentikan setelah pihak Istana berjanji akan menjadi jembatan dalam mengatasi masalah mereka.
Namun pada pekan lalu, mereka kembali kecewa dan merasa diberi harapan palsu oleh pemerintah. Sebab pertemuan yang digagas tidak dihadiri pucuk pimpinan dari PT GUN, Pertamina, dan Patra Niaga. Bahkan KSP tidak hadir dan Sekretaris Negara hanya diwakili staf. Baca:
Demo Lagi,Buruh AMT Merasa Telah Di-PHP-kan IstanaSP-AMT bahkan sempat menggelar Aksi Obor di Depo Plumpang yang berjarak tidak jauh dari posko perjuangan mereka. Saat itu, mereka berpikir jika tuntutan tidak diterima maka semua harus hancur. Baca:
Tekad Sopir Tangki Sudah Bulat: Hancur Satu Hancur SemuaTuntutan dari SP-AMT hanya empat, yaitu dipekerjakan kembali sebagai buruh tetap PT Pertamina Parta Niaga dan PT. Elnusa Petrofin.
Kedua, menuntut pembayaran upah lembur selama ini yang belum dibayarkan. Ketiga, pembayaran upah proses selama 19 bulan di-PHK ilegal. Dan terakhir, menuntut adanya pensiun bagi AMT yang sudah masuk usia pensiun, dan kompensasi bagi keluarga AMT yang suaminya telah meninggal selama PHK ilegal.
[ian]
BERITA TERKAIT: