Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, Indonesia tidak hanya akan menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, tetapi juga berpotensi mengalami surplus hingga 1,4 juta kiloliter (kl).
Proyeksi tersebut, menurut Bahlil, didasarkan pada perhitungan antara kapasitas produksi dan tingkat konsumsi solar nasional.
Sepanjang 2025, konsumsi solar domestik tercatat mencapai sekitar 38 juta kl, dengan sekitar 5 juta kl masih dipenuhi melalui impor. Namun pada tahun ini, produksi dalam negeri dinilai mampu menutup kebutuhan tersebut, bahkan melampauinya.
“Impor (solar) kita tinggal 5 juta kl, jadi sudah tertutupi. Bahkan, surplus 1,4 juta kl,” ujar Bahlil di Balikpapan, seperti dikutip redaksi pada Selasa, 13 Januari 2026.
Bahlil mengungkapkan terdapat dua faktor utama yang mendorong potensi surplus solar nasional. Faktor pertama adalah penerapan kebijakan biodiesel B50 pada tahun ini sebagai kelanjutan dari program B40 yang telah dijalankan sebelumnya.
Kebijakan ini mengandalkan bahan bakar nabati dengan komposisi 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar, sehingga kebutuhan solar berbasis fosil dapat ditekan secara signifikan.
Faktor kedua adalah beroperasinya kilang hasil modernisasi di Balikpapan yang diresmikan pada hari yang sama. Kilang tersebut ditargetkan mampu memproduksi hingga 1,8 juta kl solar per tahun dan berkontribusi menekan nilai impor hingga Rp14,9 triliun.
“Alhamdulilah atas perintah Bapak Presiden, mulai sekarang yang kita bicarakan ini tidak ada lagi impor solar ke depan,” jelas dia.
Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa potensi surplus tersebut berlaku untuk solar dengan spesifikasi cetane number (CN) 48. Sementara untuk solar dengan spesifikasi CN 51 yang banyak digunakan sektor industri, Indonesia masih akan melakukan impor dalam jumlah terbatas.
“Sementara (solar) C51, impor kita itu hanya 600 ribu kl. Nanti di semester kedua, saya minta Pertamina untuk membangun agar tidak kita impor,” tutupnya.
BERITA TERKAIT: