Fakta itu merupakan hasil penelitian yang dilakukan Urban Sanitation Development Program (USDP) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam pertemuan dengan Walikota Pagaralam Alpian Maskoni di Ruang Besemah III Rabu (31/10).
Dipaparkan USDP Sumsel, bukan saja 37 persen KK yang tidak memiliki jamban, bahkan tercatata ada 6.000 lebih KK yang tidak memiliki pembuangan air limbah.
Kondisi ini membuat Kota Pagaralam berada di peringkat buncit dari empat Kota yang ada di Sumsel, sebagai kota dengan tingkat penduduknya yang tidak memiliki jamban paling tinggi di Sumsel.
Tim USDP Provinsi Sumsel, Yayat Hidayat mengatakan, ada 18.332 KK di Pagaralam yang tidak memiliki jamban, dimana 2.545 diantaranya tergolong keluarga miskin.
Menanggapi paparan USDP tersebut, Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni mengatakan, jika dilihat dari letak goegrafisnya, wajar jika Pagaralam menjadi peringkat terakhir untuk pencapaian tingkat sanitasinya. Pasalnya di Pagaralam masih banyak daerah dataran tinggi yang memang sering kesulitan air.
"Memang dari zaman dahulu warga Pagaralam masih banyak yang buang air besar di kolam ikan yang ada di lingkungan permukiman terutama di kawasan pinggiran kota. Namun ke depan ditargetkan semua masyarakat Pagaralam sudah memiliki jamban baik secara individual maupun komunal," katanya seperti dilansir
Kantor Berita RMOLSumsel.
Untuk mencapai target tersebut Wako mengajak semua OPD terkait gencar melakukan sosialisasikan tentang pentingnya sanitasi.
"Pola pikir masyarakat kita yang harus kita ubah terlebih dahulu agar program ini bisa berjalan dengan baik dan bisa tercapai selama lima tahun kedepan," harapnya.
[yls]
BERITA TERKAIT: