Ayo, BPK Audit Proyek LRT Fase I

DPRD Soroti Sarana Transportasi Asian Games 2018

Selasa, 21 Agustus 2018, 09:14 WIB
Ayo, BPK Audit Proyek LRT Fase I
Foto/Net
rmol news logo Gagalnya kereta ringan Light Rail Transit (LRT) Jakarta beroperasi saat Asian Games 2018, bakal menjadi masalah serius. Selain Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta melakukan audit dana pembangunan, politisi Kebon Sirih juga beren­cana membentuk panitia khusus (Pansus).

 Alasannya, LRT koridor Velodrome-Kelapa Gading itu bisa disebut proyek gagal. Awal­nya dibangun demi sarana trans­portasi Asian Games 2018, tapi batal. Proyeknya belum kelar akibat berbagai kendala.

"Diperkirakan juga bakal ga­gal menjadi sarana transportasi umum. Jadi kami minta BPK mengauditnya dan semua pihak terkait bertanggung jawab," ujar Wakil Ketua DPRD DKI Ja­karta, M Taufik saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Sebenarnya, lanjut Taufik, LRT untuk Asian Games sebagai transportasi atlet, tidak terlalu signifikan.

"Buat membawa atlet juga ng­gak jelas. Atlet nginep di mana? Masa dari Kemayoran ke Ke­lapa Gading dulu baru naik LRT. Orang Rawamangun juga nggak mungkin naik LRT dulu ke Kelapa Gading kalau mau ke Velodrome," terangnya memberi ilustrasi.

Terkait menjadi angkutan umum, menurut Taufik, jalur dari Kelapa Gading ke Velo­drome, bukanlah jalur sibuk.

"Orang naik motor atau sepeda 20 menit sampai. Itu bukan jalur tempat kerjaan. Jadi untuk apa LRT di sana," tandasnya.

Taufik kemudian menyoroti masalah anggaran pembangunan LRT yang fantastis mencapai Rp 6,8 triliun untuk panjang lintasan yang hanya 5,2 kilometer. Arti­nya, setiap kilometer mengha­biskan dana Rp 1,307 triliun.

Pihaknya sepakat memben­tuk pansus karena proyek LRT Jakarta itu pemborosan yang sangat luar biasa. Sementara kegunaannya mubazir, karena tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat.

Ketua DPD Partai Gerin­dra DKI Jakarta ini menilai, biaya LRT fase I ini sangat tidak masuk akal karena dalam pembangunannya, tidak memer­lukan pembebasan lahan. LRT dilaksanakan di atas lahan milik Pemprov DKI.

Dia bilang, pansus dibuat karena berkaitan dengan ren­cana proyek LRT fase dua rute Velodrome-Tanah Abang.

"Dari awal saya sudah ingatkan. DPRD buat pansus sejak bulan lalu. Cost-nya besar. Saya kira ini paling mahal sedunia. Saya kira pimpinan Jakpro dan pemborong, harus bertanggung jawab atas kegagalan ini," paparnya.

Pansus perlu dibentuk, lan­jutnya, ada kaitannya dengan perencanaan pembangunan LRT fase II. "Dari mana anggaranya? Kalau APBD lagi, berat. Biayan­ya bagaimana per kilometernya. Banyak ahli, memprediksi tidak sebesar itu," sentilnya.

Direktur Utama PT Jakpro Dwi Wahyo Daryoto mengung­kapkan, ada berbagai syarat dan halangan yang dihadapi agar LRT beroperasi secara publik, terutama saat Asian Games. Sehingga atlet dan official Asian Games dipastikan tidak dapat menggunakan LRT Jakarta.

LRT memang sudah diuji coba. Namun selama masa uji coba, hanya kalangan terbatas yang da­pat menikmati LRT Jakarta itu.

"Dalam waktu sebulan selama Asian Games ini kami coba, namanya uji coba terbatas. Dan itu nanti penumpangnya pun terbatas karena kami concern terhadap safety," ujar Dwi.

Dwi mengatakan, untuk fak­tor keamanan, kereta api ringan ini membutuhkan banyak syarat, termasuk uji statis dan uji dinamis. Butuh uji coba se­lama 2.000 jam sebelum resmi beroperasi untuk publik.

"LRT butuh uji coba selama 1.000 sampai 2.000 jam sebe­lum layak dioperasikan untuk publik," kata Dwi Wahyu.

Selama masa uji coba, kereta hanya berjalan mondar-mandir dari Stasiun Velodrome ke Stasi­un Boulevard Utara. Sedangkan stasiun yang lain, yaitu Stasiun Equestrian, Stasiun Pulomas, dan Stasiun Boulevard Selatan, masih dalam proses pengerjaan dan belum dapat difungsikan.

Direktur Utama LRT Jakarta Allan Tandiono mengatakan, pengoperasian kereta pabrikan Korea Selatan ini akan mengu­tamakan keselamatan.

"Pak Gubernur dan Dirut Jakpro selalu mengingatkan kami untuk hati-hati. Jangan ada faktor keamanan yang terlewat. Nah, untuk memitigasi itu se­mua, kami berusaha memastikan semua aman dulu," kata Allan.

Diterangkan secara rinci, uji coba dilakukan selama satu bulan untuk menyesuaikan operasional LRT dengan perilaku warga Jakarta yang akan men­jadi penumpangnya. Misalnya, pintu kereta yang hanya terbuka 30 detik serta laju eskalator yang diatur lebih cepat dibanding eskalator secara umum.

"Di luar negeri sudah biasa. Di sini harus adaptasi dan belajar warganya," tandasnya.

Uji coba juga untuk mem­peroleh sertifikat jam terbang sebanyak 2.000 jam untuk me­menuhi Izin Usaha Prasarana Perkerataapian dari Kemente­rian Perhubungan.

Sebelumnya diberitakan, LRT akan beroperasi 10 Agustus lalu, tapi itu batal. Bahkan sudah dipastikan, LRT tidak dioperasi­kan saat Asian Games. Padahal, pembangunannya dikebut agar bisa penunjang transportasi pesta olahraga terbesar se-Asia itu. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA