Kebhinnekaan Indonesia Jangan Cuma Jadi Jargon

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 08 Mei 2018, 18:59 WIB
Kebhinnekaan Indonesia Jangan Cuma Jadi Jargon
Ilustrasi/Net
rmol news logo Konsep Kebhinekaan harus masuk tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari. Kebhinekaan juga jangan hanya menjadi sebuah jargon.

Begitu dikatakan cendekiawan muslim Prof Dr. Komaruddin Hidayat pada acara Dialog Nasional Aplikasi Kehidupan Berbhineka “Kita Adalah Satu Kita Indonesia Kita Pancasila” yang digelar oleh Canisius College Alumni Day 2018 di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Selasa (8/5).
 
Menurutnya, kebhinekaan dalam pancasila adalah konsep yang luar biasa dan harus dikembangkan menjadi perilaku.

"Muara Pancasila adalah keadilan, muara agama pun keadilan, dan adil adalah kesempurnaan takwa,” katanya.
 
Romo. Prof. Dr. BS Mardiatmadja juga berpendapat senada, Kata dia, Indonesia mempunyai energi positif untuk bersatu.

Dari hasil keliling Indonesia, Romo Mardi sering menemukan masyarakat yang berbeda-beda. Mulai di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Manado, dan masih banyak lagi.

"Perbedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya begitu tampak,” katanya.
 
Namun, ketika Romo Mardi sedang berada di luar negeri dan bertemu dengan orang-orang Indonesia di sana, ia menemukan kesimpulan yang luar biasa.

"Walaupun orang Indonesia di luar negeri itu berbeda suku, setiap mereka bertemu pasti akan berbahasa Indonesia. Di sinilah energi itu tampak, energi untuk saling bersatu begitu kuat,” jelasnya.
 
Sementara itu, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia Prof Dr. Jimly Asshiddiqie SH menegaskan, Indonesia bisa eksis hingga saat ini karena masyarakat sepakat untuk memegang teguh Pancasila. Karenanya, kebhinekaan harus terus dirawat sampai kapanpun.
 
"Untuk itu kita jangan baper (bawa perasaan), kita harus berikan juga narasi-narasi positif dan optimistis,” kata jimly.
 
Jimly juga menyentil para partisan politik yang menggunakan rumah ibadah untuk kampanye praktis. Padahal, menurut Jimly, ada tiga tempat yang tidak boleh digunakan untuk kampanye politik praktis.

"Rumah ibadah, fasilitas pemerintah, serta sarana pendidikan,” terangnya.
 
Dialog Nasional Aplikasi Kehidupan Berbhineka "Kita Adalah Satu Kita Indonesia Kita Pancasila” yang digelar selama tiga jam tersebut dipandu oleh Najwa Shihab dan juga dihadiri oleh Gubernur PTIK Irjen Polisi R. Sigit Tri Hardjanto, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, dan Yenny Wahid sebagai pembicara dalam acara tersebut. [sam]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA