Menebar fitnah, kebohongan, ujaran kebencian dan adu domba adalah keburukan bagi peradaban dan produksi hoax adalah orang-orang yang mendustakan ajaran nilai-nilai keagamaan.
"Dalam mengatasi isu negatif dari media soasial yang berkembang saat ini, pemuda harus kuatkan nilai nilai kebangsaan dalam kebhinekaan," jelasnya kepada wartawan, Selasa (20/3).
Menurut Haris, media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif.
Haris yang juga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengimbau elemen bangsa khususnya anak muda Indonesia selektif dan menggunakan prinsip cek dan ricek dalam menyampaikan berita yang diperoleh di media sosial, karena menyebar berita bohong alias hoax adalah bukan karakter bangsa.
"Pemuda menjadi pembeda karena sebagai pemimpin masa depan, tentunya harus bisa menjadi penyeimbang isu yang beredar, apalagi momen politik saat ini," ujarnya.
Dia menambahkan, pemuda harus berperan aktif karena Indonesia adalah negara majemuk yang dipersatukan dalam landasan ideologi Pancasila. Di mana memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika namun merupakan satu kesatuan dalam bingkai NKRI.
"Pancasila merupakan landasan idiom bangsa Indonesia, falsafah dan pandangan hidup bangsa. Pekerjaan rumah kita sebagai pemuda intelektual mampu mengedukasi masyarakat dalam menjaga persatuan Indonesia dengan menggunakan media yang positif," demikian Haris.
[ian]
BERITA TERKAIT: