Untuk itu, DPRD DKI Jakarta mengingatkan Gubernur Anies Baswedan agar tim yang dibenÂtuknya tidak menjadi penghamÂbat kerja BUMD seperti dialami PD Dharma Jaya.
"Informasi yang saya dapat, sekarang ini BUMD sulit menÂgakses Gubernur dan Wakil Gubernur karena harus bertemu dengan tim-tim lebih dulu. PaÂdahal, kerja BUMD saat ini suÂdah cepat. Janganlah birokrasi menjadi penghambat," kata anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike saat diÂhubungi, kemarin.
Yuke menuturkan, dana
PubÂlic Service Obligation untuk PD Dharma Jaya Rp 41 miliar berlarut-larut dicairkan karena permasalahan birokrasi. Padahal uang untuk mengendalikan harga daging itu sudah tersedia.
"Sebentar lagi bulan RamaÂdan dan Idul Fitri. Tahun lalu harga Sembako, Daging Sapi dan Ayam terkendali karena kerja BUMD Pangan termasuk PD Dharma Jaya. Saya prediksi kalau BUMD Pangan ini diotak-atik kepentingan politik, sangat berisiko terhadap harga pangan saat Ramadan dan Lebaran nanti," jelasnya.
Seperti diketahui, Direktur Utama (Dirut) PD Dharma Jaya Marina Ratna Dwi Kusumajati merasa sangat kecewa dengan kondisi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan. Saking kecewanya, dia berniat mundur dari jabatan direktur BUMD.
Menurutnya, banyak masalah di bawah kepemimpinan GuberÂnur Anies Baswedan. Misalnya, proses pencairan dana
public service obligation (PSO) yang terlampau lama.
Dana PSO itu belum cair dari November 2017 hingga Maret 2018. Hal itu membuat Direktur BUMD seperti dirinya sangat keÂbingungan karena harus mencari dana talangan untuk November hingga Desember 2017.
Selain itu, dana reimburse untuk Desember 2017 juga beÂlum dapat dicairkan. Padahal, kebutuhan daging ayam untuk warga yang disubsidi harus terus dipenuhi.
Tak hanya itu, sekarang kerja sama antar-SKPD tidak berjalan dengan baik. Di bawah kepemimpinan Anies, SKPD seperti bermain sendÂiri-sendiri tanpa koordinasi sama sekali.
Hal itu sangat menghambat sistem pelayanan masyarakat. Akibat masalah di atas banÂyak masyarakat yang dirugiÂkan. ***