"Kami mengerahkan segala upaya menjadikan Ambon sebagai kota musik ke 18 dunia," kata Walikota Ambon, Richard Louhenapessy dalam acara makan malam
Press Gathering di rumah dinasnya, Jumat malam (16/3).
Menurut dia, masyarakat Ambon memang memiliki tradisi menyanyi. Karenanya, hampir tidak ada sekolah vokal di kota ini.
"Jadi untuk apa masuk sekolah vokal usah. Itu persepsi masyarakat Ambon, " ujar Richard.
Nah, sejalan dengan kebutuhan globalisasi serta obsesi Berkraf, maka Ambon pun terus didorong menjadi kota kreatif ketiga setelah Bandung dan Pekalongan.
Kota Parahiangan itu dikenal sebagai kota basic design dan Pekalongan sebagai kota Batik sedangkan Ambon sebagai kota musik.
"Kita berharap tahun 2019, Ambon jadi kota musik dunia. Makanya kehadiran teman-teman wartawan parlemen mempercepat pengakuan dunia internasional terhadap eksistensi Ambon sebagai kota musik," kata Richard lagi.
Dia mengakui semenjak pertama kali menjadi walikota Ambon, tahun 2011 pihaknya sudah mencanangkan dan memperjuangkan Ambon sebagai kota musik.
"Baru-baru ini di kota ini digelar konferensi musik pertama bahkan tahun depan direncanakan juga akan digelar festival musik Melanesia. Kegiatan ini menjadi justifikasi dan ikon Ambon sebagai kota musik " ungkapnya.
Pada jamuan makan malam itu, pihak kesekjenan DPR dan wartawan parlemen tidak saja disuguhkan makanan malam yang nikmat, tapi juga berbagai petunjukan musik yang ditampilan anak-anak remaja Ambon seperti paduan terompet, alat musik tiup cangkang kerang yang dikenal dengan nama hutumuri.
"Ini hanya bagian kecil yang dimiliki masyarakat Ambon " demikian Richard.
[sam]
BERITA TERKAIT: